Merasa Gloomy Terus?

Ide menulis postingan ini gue dapat di perjalanan pulang dari Jakarta kemarin. Gue tengah duduk di kursi dalam kereta, berhadapan dengan jendela dengan lapisan kaca film yang tipis. Sekitar pukul 5 sore waktu itu, menjelang senja, dan pandangan gue gak bisa jauh dari jendela yang menyediakan lanskap pemandangan di luar. Khas langit malam, apa yang terlihat dari dalam pun sama kelamnya. Bangunan demi bangunan mulai berwarna hitam seiring dengan turunnya matahari. Gue berpikir, kalau diibaratkan sebagai warna, sedih itu identik dengan kelabu. Hitam? Bukan, hitam bukan melambangkan sedih. Hitam itu lebih ke arah kosong, seperti mati rasa. Kosong seperti lubang yang ditinggalkan seseorang tercinta, kosong seperti tidak ada apa pun di sana. Kosong seperti halaman kertas yang tidak setitik pun tergores tinta. Kosong seperti pikiran kamu ketika orang yang duduk di depanmu beberapa bulan atau beberapa tahun yang lalu mengeluarkan sepotong kalimat, ‘Aku mau putus.’ Dan kosong seperti hari-hari yang kamu jalani setelah itu. 
Sedangkan kalau dimetaforakan sebagai cuaca, sedih itu sama seperti mendung. Istilah kekiniannya, gloomy. Itu loh, seperti yang sering dipakai anak-anak sekarang mengutarakan kegundahan perasaannya lewat socmed. Pas lagi sedih, posting foto bulir-bulir air yang nempel di kaca pas hujan, gak lupa dikasih caption: Bukan hanya langit, tapi hati ini pun sedang gloomy. Aih.. ;’)
Karena istilahnya keren, perasaan gloomy itu sendiri juga sebetulnya senyap-senyap sedap gimana gitu, ya… Bayangin deh, pas lagi hujan di luar, kamu duduk menyebelahi jendela. Asap dengan aroma kopi yang baru diseduh mengepul dari dalam cangkir di atas meja kerja. The Scientist mengalun datar dari laptop. Lampu kamar mati, ruangan gelap dengan hanya mengizinkan cahaya dari jendela menerobos sedikit. Hari itu seperti latar yang buram pada selembar foto. Dan seperti langit di luar, kamu pun mendadak abu-abu. Seperti ia sebelum turun hujan, kamu pun menjadi mendung. Gloomy. Kamu membuka notes yang tertelungkup di sebelah laptop, mengambil pulpen, lalu menulis puisi di sana. Yap. Hujan emang identik dengan puisi.
Tapi meskipun perasaan gloomyitu bisa bikin otak segar, kalo dalam frekuensi yang sering, bagus gak sih? Bisa iya, bisa enggak. Efek jeleknya kamu akan jadi pribadi yang muram. Ke mana-mana sendirian dengan earphone di kuping, gak tertarik dengan dunia di sekitarmu. Yang kamu cari hanyalah sebatas kursi di pojokan kafe untuk berteduh dari kebisingan. Untuk kembali ke duniamu yang senyap dan sunyi.
Untuk gue sendiri, karena gue termasuk anak yang gampang baper, jadi hal sekecil apa pun bisa bikin gue mendadak gloomy. Selama bisa menghasilkan baris demi baris puisi, sih, gakpapa. Bisa gue tukerin sama Indomie di warung pas tanggal tua. Tapi kalau mentoknya cuma sebagai bunga lamunan, ya buang-buang waktu namanya.
Sementara itu, yang bisa gue lakukan untuk gak gloomy sepanjang waktu adalah:
Mengelola lagu di playlist
Tracks yang dimasukin ke daftar putar itu ngaruh loh sama suasana hati si pendengar. Jadi lagu-lagu yang terkumpul di sana juga harus disesuaikan sama kondisi kamu. Misalnya kamu lagi sedih abis putus sama selingkuhan, tapi kerjaan kamu menuntut untuk tetap fokus. Maka kamu harus menjauhi lagu-lagu melankolis yang ngajak nyilet-nyilet tangan. Kalau kamu lagi sedih dan pengin ceria lagi, jauhi apa yang bikin kamu sedih. Kalau kata si anu, stop looking for happiness in the same place you lose it.

Sedikit gak nyambung, ya? Biarin, yang penting tulisan ini ada kalimat bahasa Inggrisnya.
Jangan sering melamun
Menurut riset yang dilakukan oleh orang lain, aktivitas melamun yang kita lakukan itu ternyata bisa dengan mudah menjebak kesadaran kamu di suatu “ruangan”. Nah, ketika masuk ke ruangan ini, entah gimana bisa, kamu jadi kesulitan menemukan pintu keluar. Katakanlah kamu menemukan pintu keluarnya, tapi tetap saja, ada sesuatu di dalam ruangan itu yang memaksa kamu untuk gak ke mana-mana. Ujung-ujungnya, kamu kembali ke tempat yang harusnya kamu lupain. Mending kalau tempatnya bagus, kasurnya rapi, selimutnya tebel, kan enak buat tidur. Tapi kalo kamarnya berantakan, penuh kenangan mantan, dan ada noda darah di dinding, kan bisa-bisa bikin sedih lagi…
Makanya, bangun dari lamunan itu gak bisa sekaligus. Harus pelan-pelan.
Lupakan mantanmu~ ♬♪
Siapa yang sering inget mantan?
Kalau soal inget mantan*, gue udah pengalaman banget. Dari hal-hal kecil semisal gue lagi napas terus inget dia juga napas. Sampai hal-hal kelewat elegan seperti lagi nyeduh kopi, lalu crema berwarna keemasan yang ngambang mengingatkan gimana setiap malam selalu berbintang ketika bersama dia. Pokoknya, apa saja bisa bikin gue inget mantan. Tapi itu gak berakhir sesimpel mulainya. Endingnya gue pasti ngelamun terus, berpikir banyak hal, seperti membongkar kotak kenangan yang udah sempit. Terus, sedih deh. Gloomy, deh. Ngetwit galau-galau, deh.
*) gue sebetulnya gak punya mantan, tapi demi kelancaran poin ini, anggap ada aja, yak. Sip. Lanjut.
Jangan gampang baper
Poin ini paling penting nih. Kalau gue perhatiin, anak zaman sekarang tuh gampang banget kebawa perasaan. Contoh paling mutlak untuk hal ini adalah wota. Kalau kekasihnya lagi nyanyi di atas panggung, di baris lirik yang sendu, pasti dia yang nonton langsung baper. Apalagi ditambah ekspresi kekasihnya yang syahdu-syahdu syedap gitu, beeh. Padahal kekasihnya ngelakuin itu karena.. yaa itu pekerjaannya dia.
Terus pas salaman sama kekasih di event salaman (biasanya di JIExpo Kemayoran), rasanya enaaak banget tangan digenggam erat gitu. 10 detik terasa berjam-jam, dan karena yang digenggam itu tangan kekasih, jadi cukuplah buat bikin terbang sampai ke surga. Bukan, bukan surga dalam artian sebenarnya, tapi surga = lingkaran setan yang membuat dia gak bisa jauh-jauh dari mall dua huruf di Senayan.
Tapi enak juga sih kalo gampang baper. Misalnya pas kekasih ngetwit pake “kamu” bukan “kalian”, si wota pasti langsung ngerasa twit itu buat dia. Padahal “kamu” itu sebenarnya bersifat jamak, artinya ya ditujukan buat wota-wota yang lain juga.
Lucu, ya? Sepotong kata “kamu” aja udah bisa bikin bahagia.
Oke, sekian curhatnya.
The first to forget is the happiest
Hidup adalah beban. Kecuali yang begitu lahir segalanya tersedia: cinta, harta, dan tiket konser. Tapi kalau tidak? Tentunya kita akan hidup layaknya manusia-manusia lain yang butuh perjuangan untuk bisa bahagia. Untuk mendapatkan sesuatu, diperlukan pengorbanan terhadap sesuatu yang lain. Iya, pengorbanan, karena hidup itu senada dengan quote favorit om-om fitness: No pain, no gain. Untuk bisa sarjana, diperlukan kerja keras dan kerja cerdas. Untuk bisa meraih cinta sang pujaan (ahsek!), diperlukan perjuangan melawan gengsi, melawan keadaan yang serba susah. Agar berhasil, kita memang harus bisa melewati dinding. Iya, hidup ini memang soal melewati dinding pembatas.
Tapi udah capek-capek berjuang, kok kenyataan yang diterima berbeda, ya? Kok gak sesuai ekspektasi kita? Kok semesta gini amat kejamnya? Senengnya bikin kita kecewa terus. Udah bertahun-tahun menjalin persahabatan, tapi endingnya rontok karena dia menusuk kita dari belakang. Suka ke temen di kelas, berjuang keras, tapi malah orang lain yang dapet. Rajin berbuat baik ke orang, tapi balasan yang diterima malah sebaliknya.
Hidup jahat banget, ya? Iya. Memang. Tapi sebetulnya, yang perlu kita lakukan itu cukup satu: melupakan. Rajin menebar kebaikan, tapi malah dibalas sebaliknya? Kuncinya satu: ikhlaskan. Semua yang menjauhkan kita dari bahagia itu hanya perlu satu perlakuan: lupakan. 
Susah? Kalau mau bahagia yang sederhana, ngeteh aja sambil nungguin matahari terbit di gunung.
Intinya, the first to forget is the happiest. Yang pertama melupakan adalah yang paling bahagia.
Inget Tuhan
Salah satu alasan kenapa kita gampang sedih itu adalah karena lupa sama Tuhan. Gak perlu dijelasin, kan? Sip. Lanjut.
Eh, udah abis dong.
Oke, segini dulu aja, ya. Postingan ini ditulis via laptop, 4 halaman. Sengaja gue tulis panjang-panjang biar sekalian bayar utang postingan minggu kemarin. Tapi pas di-post, kok pendek banget, ya? :/
Oh iya, karena kota rantau gue juga mau masuk musim hujan, sepertinya waktu senggang gue juga bakal banyak diabisin menatap kosong ke jendela. Jadi kalau postingan-postingan berikutnya di blog ini gak jauh-jauh dari galau, maafkan ya. ._.
Kamu gimana? Masih suka gloomy perasaannya?