Review Recehan: Career of Evil, by Robert Galbraith

 
Bagi penggemar novel bergenre crime fiction, tentu kisah Cormoran Strike ini sudah menjadi peramai rak buku sejak seri pertamanya, The Cuckoo`s Calling, terbit pada tahun 2013 lalu. Setahun berselang, Robert Galbraith—pseudonym J. K. Rowling—kembali menuturkan kisah Cormoran Strike lewat The Silkworm. Karena “Konsisten” adalah nama tengahnya (Joanne Konsisten Rowling), kreator Harry Potter saga itu pun resmi menerbitkan seri ketiga cerita detektifnya pada penghujung Oktober 2015: Career of Evil.
Buat yang belum pernah mengikuti kisahnya, Cormoran Strike adalah cerita tentang pensiunan perang yang memutuskan banting setir menjadi private detective. Nah, karir om Strike ini melejit setelah berhasil menyelesaikan kasus yang melibatkan selebriti terkenal dalam seri pertama, The Cuckoo`s Calling, dan pembunuhan superajaib seorang penulis pada buku kedua, The Silkworm.

Relevan dengan genrenya, buku ini menyajikan cerita tentang dunia kriminal yang lekat dengan hal-hal kotor, darah, dan dendam kesumat mantan. Motif kejahatan yang diangkat penulisnya sebagai penggerak cerita sangat kuat, berimbang dengan karakter-karakter yang hidup serta setting yang terasa nyata. Membaca tulisan J. K. Rowling selalu membuat kita merasa betul-betul hadir dalam dunianya, memang.

Konflik dalam Career of Evil naik ketika Robin Ellacott, asisten Strike yang supercakep, menerima paket dari kurir berisi potongan kaki seorang perempuan, lengkap dengan catatan yang mengutip lagu Blue Öyster Cult, yaitu tato yang dimiliki oleh ibu Strike. Karena relasi tersebut, Strike memberi tahu polisi empat orang yang ia jatuhi rasa curiga, mereka yang Strike percaya memiliki dendam kepadanya di masa lalu.

Tiga dari orang-orang ini Strike kenal pada masa dia menjadi Special Investigation Branch—nama yang diberikan kepada detektif dari polisi militer Inggris Raya: seorang gangster terkemuka, “Digger” Malley, seorang paedophile, Noel Brockbank, dan seorang mantan tentara, Donald Laing, yang juga pernah Strike kalahkan dalam pertandingan tinju dan turnamen FIFA antar kabupaten. Tersangka keempat adalah Jeff Whittaker, duda sekaligus orang yang Strike yakini adalah pembunuh ibunya.

Dengan terlibatnya orang-orang tersebut, kasus kali ini terasa lebih personal bagi Strike dan Robin. Bagi Strike, ini merupakan sebuah peringatan, sementara untuk Robin, dia baru saja dimanfaatkan pelaku untuk menggaet Strike. Berbeda dengan dua buku sebelumnya yang mana kasus mereka didasari profesionalisme semata, kali ini kasus mereka adalah mereka sendiri. 

Strike melakukan pekerjaannya dengan bernostalgia, kembali membuka pintu kenangan dan menyusuri lika-liku kehidupan lamanya. Berusaha mengingat detail demi detail, lalu mengaitkan setiap peristiwa yang pernah ia alami itu dengan kejadian di masa kini. Sedangkan Robin, ia melakukan riset tentang orang-orang yang menemukan candu dalam potongan tubuh manusia, dan sesekali melukis alis. Makin ke sini, chemistry yang terjalin antara Strike dan Robin ini makin dapet, alasan kenapa tunangan kampret Robin, si Matthew, semakin membenci hubungan mereka. Di Career of Evil kita akhirnya tahu alasan Robin berhenti kuliah. 

Hubungan Strike dan Robin memang mirip-mirip temen-kerja-tapi-berpotensi-sayang. Mungkin kalau Strike punya banyak anak buah, relasinya dengan Robin ini udah jadi bahan gunjingan di sub-grup WhatsApp.

Ketika membaca buku ini, kita akan cenderung tersandung dan kemudian larut dalam sensasi muram, sendu, atau bahkan nostalgic yang dibangun penulisnya. Dari segi kengerian, Career of Evil berada di atas dua buku sebelumnya. Banyak darah dan potongan tubuh yang kerap singgah dalam mimpi pembacanya. Career of Evil menceritakan setiap sudut kota-kota di Inggris, kafe dan bar, persimpangan demi persimpangan, dan lalu lintas sibuk kota London. Iya, kotanya si papan bawah itu, lhooooo.

Buku ini paling tebal dibandingkan adik-adiknya, kurang lebih 500 halaman. Untuk versi bahasa Inggris, membacanya bisa lumayan struggle, karena diksinya agak berat dan kalimatnya panjang-panjang. Namun, untuk saat ini Career of Evil baru beredar di toko buku impor seperti Kinokuniya, Periplus, atau toko-toko buku online. Harganya kurang lebih $20. Untuk versi terjemahan, sepertinya baru akan diterbitkan Gramedia pada bulan Maret atau April nanti (ini sotoy). 

Buat yang menunggu, silakan menabung dulu, ya. 😀 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s