Melankoli Akhir Pekan

  
Kau menarik kursi, menyandarkan punggungmu di sana, lalu membiarkan kakimu berayun seirama angin yang berembus. Bagimu, udara Minggu pagi selalu menyenangkan. Senyaman selimut hangat yang memelukmu ketika hujan mulai turun.

Maka lihatlah keluar jendela. Lihatlah ranting pohon yang menari melepaskan dedaunan. Lihatlah bagaimana daun-daun itu jatuh perlahan ke tanah yang berselimut rerumputan. Kau tahu, ia akan kering di atasnya, membusuk, lalu diuraikan dan akhirnya kembali menjadi tanah.

Biarkan dedaunan itu terjebak dalam arus kisahnya sendiri. 

Biarkan angin menuturkan pesan suka dan duka kepada ruang semesta. 

Biarkan terik membakar tengkuk mereka yang tumbuh di bawahnya. 

Biarkan semesta tetap sentimental seperti apa adanya.

Dihampiri jenuh, kau pun mengangkat tangan dari pangkuanmu. Kau menuntunnya tuk meraih cangkir teh yang kau taruh di ambang jendela. Alih-alih menyesap, yang kau lakukan hanya memainkan sendok dan membiarkan melodi dentingannya bermain di telingamu.

Maka undanglah aku dan alam raya ke dalam pestamu.

•••

Ada masa ketika kau membangunkanku. 

Namun, tak jarang aku harus bangun sendiri. 

Seperti siang bolong ini.

Advertisements

2 thoughts on “Melankoli Akhir Pekan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s