Kontemplasi Siang Bolong

  
Gue merebahkan badan di lantai, berharap sensasi dinginnya saat bersentuhan dengan punggung bisa mengurangi panas. Musim hujan tahun ini seolah cuma menitip absen. Alih-alih kesejukan, panas terik lebih sering datang menyalami. 

Gue mengedarkan pandangan ke seisi kamar. Jendela terbuka, kipas angin udah yang paling kencang, tapi panas terkutuk ini gak beranjak pergi juga. Merasa gak nyaman, gue putuskan untuk melepaskan kaus yang mulai lengket karena basah. Menyibak gerah yang menyelimuti.

Setelah itu, hanya lamunan yang tersisa. Gue sedang dalam mood membaca, tapi rasanya terlalu malas berjalan ke rak buku. Pada akhirnya, alih-alih meraih sebuah buku untuk tenggelam di dalamnya, hanya sorot mata gue yang berhasil berhenti di sana. Lebih tepatnya, di foto polaroid yang terbingkai di atas rak buku.

Foto itu gue temukan di dalam kardus yang berisi album-album foto di gudang. Kebanyakan adalah foto-foto bokap di kantor lamanya dulu. Di foto itu, seorang bocah berumur 5 tahun (menurut informasi bokap) sedang diberdirikan karena jatuh di lantai. Itu adalah gue, dan ekspresi menangis gue di foto itu sangat sangat sangat menjijikkan. Muka memerah dan berkerut di jidat dan sekitar mata. Ingus melimpah ruah menutupi filtrum di atas bibir. Mengingat gue sudah berusia 5 tahun, level tangisan begitu bisa dibilang lebay.

Tetapi, kalau dipikir-pikir lagi, apa yang terlihat di foto tak selalu menjelaskan semua kejadian pada kala itu. Perasaan gue waktu itu gak begitu kuat dalam ingatan, karena membayangkan rasanya jatuh kepeleset dengan begitu sentimental itu sangat susah. Yang gue tahu, rasanya pas kepeleset itu sakit, atau pusing. Sedangkan yang gak gue pahami adalah apa yang menyebabkan gue begitu emosional ketika mengecap rasa sakit itu. Terus, apa yang terjadi waktu itu? Kenapa gue bisa jatuh? Adakah yang ngetawain? Tentu saja ada, karena terkadang penderitaan orang lain sering dijadikan hiburan. Adakah yang berusaha menghibur gue dengan ngelucu? Mungkin ada, karena pemulihan lebih dipedulikan daripada rasa sakit itu sendiri. Yang terpenting adalah rasa sakit yang kita rasakan, dan bagaimana kita dengan lugunya membiarkan nyeri itu lenyap bersama waktu.

Ada luka yang bisa hilang sepenuhnya, ada yang tidak. Perihal itu, waktu sendiri tidaklah benar-benar menghapus luka, waktu hanya membawanya pergi. Dan, sesuatu yang pergi masih bisa datang kembali. 

Yah, memori memang sering ngelucu. Gue masih gak percaya bakal merenungkan peristiwa terpelesetnya gue kecil itu belasan tahun kemudian. Bukan apa-apa, gue hanya cemas kalau suatu hari nanti sesuatu yang besar terjadi dalam hidup gue, dan kenangannya membekas sekuat torehan pisau di atas kayu. Gue benci kalau harus dihantui oleh hal yang sama terus-menerus.

Gimana kalau itu adalah peristiwa yang pahit?

Gimana kalau itu adalah kalau-kalau yang lain?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s