2016, Mari Lihat Apa Yang Terjadi Nanti

   
2016. Semua orang membicarakan sesuatu yang baru; rencana-rencana besar, perubahan (walau cuma nuntut, tapi dirinya sendiri gak mau berubah. Ini lucu), dan resolusi.

Menurut gue, membuat resolusi itu nggak sesimpel merencanakan sesuatu. Resolusi lebih ke keputusan, tuntutan (dalam kasus ini, ke diri sendiri), atau keputusan bulat yang akan dipenuhi di masa depan. Jadi, kalau ada yang menulis resolusi dan cuma ngarep itu bakal terwujud, yeah, bisa dibilang elo udah buang-buang waktu.

Resolusi 2015 gue sendiri bisa dibilang belum berhasil. Gue belum berani menuntut banyak-banyak waktu itu. Dan memang, dalam hal ini, gue merasa cupu abis. Jadi sebelum 2014 berakhir, gue berjanji bakal nyelesain project yang gue mulai di tahun itu. Gue waktu itu ngerjain sebuah tulisan esai komedi, yang kalau dipikir ulang, kayaknya gue lakukan karena lagi tren. Draft pertama gue selesaikan akhir April 2015, dan dengan nekat campur bego, gue kirimkanlah ke penerbit. Hasilnya; gue ditolak dong. Bulan-bulan berikutnya gue habiskan dengan revisi-ditolak-revisi-ditolak, sampai akhirnya gue sampai di titik jenuh. Gue kehilangan orientasi, muak melakukan aktivitas menulis untuk beberapa pekan. Sampai pada suatu siang, di atas kepulan asap kopi yang baru diseduh, pikiran gue terjebak pada hari-hari yang gue jalanani dengan menekuni passion gue sendiri. Gue ingat betapa bergairahnya seorang Fajri ketika berhasil dapet dua halaman setelah tengah malam. Gue ingat rasa pahit kopi yang gue bikin untuk mengusir kantuk karena gue cuma tidur 4 jam. Ketika naskah gue dikomentari editor, rasa yang mengampiri gue lebih berlapis lagi. Di satu sisi, gue sangat senang karena mendapat respon. Di sisi lain dan lain, gue kecewa, bingung, dan merasa tertantang. 

Kegagalan gue di tahun 2015 seolah mengatakan gue belum cukup pantas. Naskah gue belum cukup layak untuk diterbitkan. Kerja gue masih belum keras, usaha gue masih seadanya.

Lalu gue pun sadar, kenapa begitu terburu-buru? Bukankah proses juga gak kalah penting sama hasil? Gue akhirnya sampai pada keputusan; harus meneruskan. Karena esensi dari passion itu sendiri adalah gimana kita menikmati ngerjainnya.

Jadi, resolusi gue tahun ini antara lain;

  • Tetap konsisten sama yang udah dimulai
  • Bersikap dan berpikir lebih dewasa (FYI, ini lumayan berguna untuk menghadapi kelakuan orang-orang annoying di sekitar kita)

Itu yang terpenting. Di luar itu yang skala prioritasnya lebih rendah;

  • Lebih banyak baca buku
  • Naikin berat badan
  • Gak boros, ngurangin beli sesuatu atas dasar ikut-ikutan, atau penasaran

Segitu aja. Kembali ke tujuan dari resolusi itu sendiri, gue gak boleh terlalu manja sama diri sendiri. Karena…

Resolusi bersifat layaknya deadline; menuntut.

Advertisements

3 thoughts on “2016, Mari Lihat Apa Yang Terjadi Nanti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s