Home

  
Ketika SMP, gue gak pernah membayangkan akan menghabiskan masa dewasa awal di tanah rantau. Jauh dari keluarga, jauh dari keakraban. Bahkan, hidup sendirian di luar pulau sangat jauh dari imajinasi gue, walaupun, yah, sejujurnya gue sendiri belum tahu tujuan gue apa dan ke mana.
Begitu udah menghabiskan satu setengah tahun di Java, gue malah nyaman dan males kalau harus balik lagi ke Padang. Jakarta emang kampret, tapi semua yang dibutuhkan ada di sini. Kota ini benar-benar menunjukkan kehidupannya siang dan malam.

Sore itu, gue gak mau bertemu bandara sama sekali. Suasana bandara selalu mendatangkan rasa gloomy bagi gue. Orang-orang yang menunggu, pasangan yang mengobrol, anak yang berpamitan… fuck, gue benci pamit. Pamit hanya mempertegas perpisahan. Gue ingin begitu akan pergi, jauh atau dekat, rasanya hanya seperti keluar rumah untuk beli rokok atau pasta gigi baru.

Gue benci harus pergi. Bagaimana pun, konsep “rumah” selalu membingungkan gue. “House” tidak berarti “home”, begitu sebaliknya. Rumah terkadang bukan sesuatu yang familier, rumah juga bisa berupa tempat yang asing, tetapi begitu gak sengaja terperangkap di dalamnya, kita malah merasa lebih nyaman. Kata orang, rumah adalah tempat berpulang. Sedangkan bagi sebagian yang lain, rumah juga bisa berupa perjalanan.

Entahlah. Entah rumah seperti apa Ibu Kota itu bagi gue.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s