Somewhere Only We Know

  

Cinta itu ada, selalu ada, akan terus ada.

Well, sejak follow Alex di Twitter, rutin membaca postingan blognya, gue jatuh cinta dengan gaya menulis Alex yang mewah, simpel, tapi tetap bisa menyampaikan inti dari cerita. Selain satu bab tulisannya di The Journeys 3, novel ini adalah yang pertama bagi gue. Somewhere Only We Know menggunakan POV orang pertama dua kakak beradik, Kenzo dan Ririn. Cerita bermula ketika Ririn yang sedang berkemas untuk liburan ke Bali, dikagetkan dengan kedatangan Kenzo yang baru pulang setelah tinggal selama empat tahun di Viet Nam.

Kenzo adalah tipikal adik nakal yang selalu gatel ngeledekin kakaknya, selalu punya cara untuk membuat Ririn kesal, selalu tahu celah mana yang harus diserang untuk membuatnya jengah. Sedangkan Ririn, si kakak emosian yang gampang tersulut sama kelakuan adik. Menurut gue, melihat betapa rempongnya Ririn di sini, penulisnya udah berhasil menciptakan karakter cewek yang emang ribet, drama, dan lebay.

Pertemuan yang melibatkan dua tokoh utama ini selalu melahirkan adegan berantem khas kakak adek yang sering ditemui di kehidupan sehari-hari. Buat yang punya sodara, yaa…

Oh, iya, Kenzo ini adalah penyuka sesama. Sebenarnya, begitu tahu dia adalah seorang gay di awal-awal cerita, gue agak males ngelanjutin novel ini. Gue takut kalau gue teruskan membaca, banyak adegan nganu-nganu seorang Kenzo dengan manusia-manusia yang dia temui di lampu merah. Untungnya, hal itu gak ada. Alih-alih mencari pasangan, Kenzo malah lebih sering menghabiskan waktu dengan galauin gebetannya yang gaib; ada, tapi gak keliatan wujudnya. 

Dan, luka yang membuatnya meninggalkan Viet Nam, malah terbuka begitu Kenzo kembali ke Indonesia.

Sementara adiknya lagi meratapi hati, Ririn malah melewati liburan romantis di Bali. Di sana dia bertemu Arik, seorang tukang dongeng tampan dan blogger idola Ririn. Tokoh Arik, menurut gue digambarkan terlalu sempurna. Hubungannya dengan Ririn pun sama, sempurna sehingga membuat konflik yang dilalui Ririn terasa amat dangkal. Cerita Ririn ini seperti udah kelar tepat setelah dia ketemu Arik, dan saling jatuh cinta. Alurnya tumpul, berbagai masalah begitu gampang dihadapi. Gak ada dramanya. Tokoh Arik membuat semuanya begitu indah seperti di dongeng yang sering ia ceritakan, yang bagi gue sebagai pembaca, terasa sedikit hambar. Gue susah menikmati kisah Ririn di pertengahan cerita. Buat gue, bagian si Kenzo yang galau nan melankolis abis selalu lebih menarik.

Tetapi, terlepas dari kehidupan Ririn dan Kenzo yang bertolak belakang, novel ini banyak mengajarkan pembaca soal cinta dan harapan. Kehidupan dua kakak adik dalam menghadapi cinta yang ada di depan mereka dikemas apik dalam dua sudut pandangan berbeda. Seorang Kenzo yang melankolis, dan Ririn yang rempong abis.

You don’t define love. You just… love.

Anjis, keren banget.

Udah, itu aja ulasannya. Kalau ditanya apakah novel ini memuaskan gue, jawabannya: IYA. Novel ini memuaskan gue. Dan level kepuasannya udah cukup untuk membuat gue gak sabar nungguin buku selanjutnya si Alexander Thian ini. 

Oh iya, postingan ini sebelumnya udah gue post di blog terdahulu. Karena gue bakal terus nulis di sini, jadi gue pindahin aja.

Advertisements

One thought on “Somewhere Only We Know

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s