How To: Bangun Pagi

Komitmen yang udah mulai bisa gue jalankan adalah menulis minimal satu postingan dalam seminggu. Gak terasa, udah berjalan sejak seminggu yang lalu. Iya, sih, gak ada juga yang akan menagih atau menuntun kalau gue gak nulis dan blog ini dingin kayak ampas kopi, tapi bagi gue, cowok sejati harus patuh sama peraturan yang dia buat.

Dan salah satu peraturan yang gue buat adalah: konsisten menulis. Makanya, dalam situasi tersulit pun, gue harus bisa bertahan melawan keroyokan rasa malas dan capek.

Hanya saja, karena lagi sibuk-sibuknya merombak ulang naskah gue, kegiatan semacam ngeshare postingan-postingan blog di Twitter jadi sedikit berkurang. Gue buka Twitter gak serajin dulu lagi, karena begitu internet gue aktifkan, gue pasti langsung dihajar distraksi. Ditonjok hasrat stalking akun si ini dan si itu.

Untuk naskah gue sendiri, perkembangannya lumayan signifikan. Paling nggak, kalau dilihat dari sudut pandang gue sebagai penulisnya. Karena dalam pekerjaan mau gak mau harus menetapkan deadline, gue gak bisa leyeh-leyeh dan menunggu suasana hati cemerlang dulu dan semangat menulis berkobar-kobar. Gue harus bersepakat dengan segala situasi, terutama situasi yang menjauhkan gue dari laptop. Tapi karena udah mulai bisa mengontrol diri untuk selalu memikirkan goal, rasa malas gue berkurang dan pekerjaan pun jadi lebih enteng. Gue mulai menerapkan morning ritual yang akan membuat gue gak bergumul melulu sama selimut. Awalnya memang susah dijalanin, susah banget malah. Tapi begitu udah terbiasa, tubuh dan otak akan sejalan.

Bagi gue, waktu adalah aset berharga, seperti masa muda yang menjadi investasi termahal. Jadi, setelah menerapkan apa yang pernah gue baca di majalah TIME, gue juga jadi pengin ngeshare di sini. Tujuan gue cuma satu: pengin berbagi hal positif, dan gue punya tulisan buat dipost. Oke, ternyata ada dua.


1. Jauhin alarm dari tempat tidur

Polanya sangat sederhana. Kamu bangun pagi seperti yang diniatkan tadi malam -> meraih handphone buat matiin alarm -> seberapa pun mepetnya waktu kamu buat bangun dan bersiap-siap untuk beraktivitas, otak pasti bakal ngakalin itu dan membuat kamu seolah masih punya banyak waktu buat lanjut tidur sebentar -> snooze alarm -> tidur lagi.

Pola iblis itu pasti sering banget kita alami. Gue juga, kok. Nah, kalau udah gini, endingnya pasti kita kalah sama rasa malas. Lanjutin tidur lagi, yang kemungkinan yang akan terjadi setelah itu ada dua: 1) beneran tidur sebentar, 2) kebablasan, dan 3) Innalillahi, kamu gak bangun-bangun. Oke, ada tiga.

Nah, cara ngakalinnya adalah: pasang alarm banyak-banyak dengan jeda satu atau dua menit tergantung selera, setelah itu tambahkan gula…, maksud gue, pakai ringtone yang keras, lalu taruh di tempat yang membutuhkan usaha buat menjangkaunya. Jangan di atas kepala atau dekat ketiak, karena itu hampir gak membutuhkan usaha apa pun buat meraih handphone dan nge-tap tombol “snooze”. Posisikan jauh-jauh, tapi gak perlu sampai ke Bekasi atau masa lalu, karena jelas-jelas itu kejauhan. Di atas lemari aja. Lemari kenangan.

Nah, kalau udah gini, pas alarmnya bunyi dan berisik, mau gak mau kita harus bangun dulu buat matiinnya. Kalau udah berdiri, kepaksa maupun sukarela, pasti ngaruh banget sama mood pengin lanjutin tidur lagi tadi.

PS: jangan pakai lagu favorit buat nada alarm. Karena lama-lama pasti jadi benci.


2. Buka pintu atau hidupkan lampu.

Baru bangun dan langsung hidupin lampu itu gak bakar banyak kalori, kok. Mungkin bakal bikin linglung sebentar dan lupa kamu itu siapa, tapi setelah sebentar itu lewat, tubuh kamu bakal langsung segar. Percaya, deh.


3. Begitu bangun, pikirin pacar, gebetan, atau pacar barunya mantan yang lebih jelek dari kamu. Atau siapa pun yang bisa membuatmu punya tujuan buat bangun. Kalau gak punya, pikirkan tujuan yang ingin dicapai dalam hidup. Tanyakan pertanyaan ini:

Gimana caranya biar impian itu bisa terwujud?

Kalau lanjut tidur 5 menit lagi, berapa langkah kamu mundur dari mimpimu itu?

Udah usaha apa buat mewujudkannya?

Apakah disiplin salah satu syarat untuk terwujudnya mimpi itu? Kalau iya, kira-kira kapan kamu bisa disiplin kalau buat bangun pagi aja ditunda 5 menit demi 5 menit terus?

Pertanyaannya khas motivator abis, sih. Tapi itulah yang biasa gue tanyain ke diri sendiri begitu baru bangun tidur.


4. Tidur lebih awal.

Yang satu ini mungkin susah, ya. Apalagi buat yang sibuk, atau kita-kita yang menikmati malam buat baper-baperan. Udah bela-belain rebahan di kasur pukul 21:45, eh tidurnya jam 2 pagi karena kepikiran sama jasa-jasa pahlawan yang telah gugur. Tapi, yah, paksain aja. Mau gimana lagi, bukan gue juga yang buat peraturan.


Setelah kamu melakukan hal-hal di atas, maka selamat, kamu udah bangun pagi. Sekarang kamu bisa berpuas diri dan mentraktir teman-temanmu buat ngerayain. Buat kamu yang iseng baca postingan ini karena penasaran rasanya bangun pagi itu gimana, kamu akan bingung begitu berhasil bangun pagi. 

Saran gue, tidur lagi aja.

Nah, itulah ilmu yang bisa gue bagi buat pembaca. Berguna atau nggaknya, semua tergantung masing-masing. Hambatan yang bakal dilalui juga berbeda-beda tergantung keadaan. Anak kos yang tidur beralaskan kardus Indomie akan lebih gampang bangun dibandingkan yang tidur enak di kasur empuk. Yang punya pacar, impian, dan hobi juga bakal lebih gampang termotivasi buat bangun pagi daripada yang hidupnya datar, hambar, pudar.

Jadi, gimana dengan kalian? Udah bisa bangun pagi? Atau punya pengalaman lain buat bangun pagi? Untuk cowok, terpaksa bangun karena after effect mimpi semalam, mungkin. Share di comment box, yha~
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s