Seperti Kita

 
Kisah. Hidup. Waktu. Kita yang terseret oleh arusnya. Hal-hal yang dibawanya. Orang-orang yang datang dan pergi silih berganti. Apa yang mereka bawa, apa yang mereka tinggalkan.

Cerita, kenangan, luka.

Sahabat, pacar, atau setumpuk huruf dan angka dalam hubungan—kerumitan.

•••

Sebelum perjalanan ini berakhir, pandanganku tak mau berhenti menyapa bangunan demi bangunan yang ditinggalkan kereta ini. Menjelang senja, sinar matahari memaksa bayangan dari segalanya meregang di tanah, seperti karet gelang yang ditarik hingga putus. Kehidupan di luar sana sepenuhnya menjadi siluet; rumah-rumah, gedung-gedung tinggi yang menjadi latar belakangnya, orang-orang.

Aku menyesap kopi dari bibir kaleng yang dingin saat bersentuhan dengan bibir. Sisi-sisinya yang tajam menyebarkan sensasi kaget seperti pelukan dari belakang, seperti menerima dekapan tiba-tiba dari seseorang yang dirindukan. Perjalanan ini masih berusia puluhan menit, itulah yang membuat bulir-bulir embun di kaleng minumanku belum sepenuhnya lenyap.

Kemudian aku berpikir tentang konsep waktu. Lucu, ya, bagaimana hal-hal berlalu begitu cepat? Seperti kemah tahunan sekolah yang seperti terjadi kemarin malam, padahal hal itu sudah setengah dekade yang lewat. Aku ingat betapa menyenangkannya bangun pagi di hari Minggu, mencuci muka dan langsung menyetel saluran TV. Berapa, ya, umurku? 10 tahun, mungkin. Setelah punya pekerjaan yang sungguh menyita waktu dan tenaga, hari Minggu menjadi pelampiasan buatku untuk tidur lebih lama. Aku tak lagi mengikuti perkembangan kartun-kartun Minggu pagi di TV, entah sudah berkurang, apa tidak ditayangkan sama sekali karena proses kelahiran bayi dari seorang artis lebih pantas mengisi acara gosip pagi.

Sedih, karena anak-anak tidak merasakan apa yang dulu kurasakan. Senang, karena aku diberi kesempatan menikmati masa-masa itu.

Nostalgia adalah semacam jarum suntik yang membuatmu kaget dengan perubahan. Hal yang terasa wajar, berubah menjadi sesuatu yang asing. Bayangkan apa kata tetangga kalau melihat seorang pria dewasa lari-larian telanjang di luar ketika hujan.

Suara parau seorang masinis dari speaker memecah lamunanku. Hmm, stasiun perhentian terakhir. Aku menghiraukan kereta yang masih belum benar-benar berhenti, lalu setengah berlari menuju pintu keluar yang masih tertutup rapat. Rapat, seperti apa yang kuinginkan terjadi kepada ruang kenangan.

Sesuatu yang baru, segar, dan hidup menungguku di luar sana. Sebuah tempat yang kupilih menjadi awal dari cerita hidupku yang baru. Begitu pintu dibuka, aku bergegas turun dan celingak-celinguk mencari pintu keluar. Minggu pagi. Seorang anak kecil—entah di belahan bumi mana—pasti sedang asyik di depan kartun kesayangannya.

Sebuah kereta baru saja berangkat ketika aku sedang berjalan melewati peron untuk bisa sampai ke “exit”. Entah ke mana tujuannya, aku tidak tahu. Hidup selalu menyediakan kejutan yang dapat mempermainkanmu. Sebuah pertemuan, sebuah persinggungan di jalan, perkenalan, dan miliaran hal lain yang menyatu membentuk rantai cerita. 

Seperti kita yang tak pernah berhenti berkisah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s