Dikerjain Semesta

Di Padang, kampung halaman gue, sebetulnya bisa saja gue menyisihkan waktu untuk duduk beberapa jam di depan laptop dan bersikap selazimnya manusia yang punya blog. Menulis postingan, dan nge-publish untuk alasan konsistensi. Akan tetapi, entah kenapa sejak menginjak tanah Padang, sifat males yang udah gue segel dengan bantuan lakban superlengket malah kambuh. Semacam aura kasatmata yang menguap dari seluruh pori-pori kulit gue. Biasanya di film-film zaman nenek gue dulu, aura ini bisa berwarna abu-abu atau pink, dan akan membuat si wadah menjadi super malas. By the way, gue punya tiga nenek. Yang satu gue temui di dalam kardus pada suatu malam saat hujan deras. Gue inget waktu itu ada yang mengetuk pintu rumah, dan pas gue buka, hanya sekotak kardus yang ditiduri oleh nenek dengan piyama bermotif biji kopi. Karena kasihan (sekaligus berharap cucunya datang dan menebus pake duit), kami sekeluarga memutuskan untuk merawatnya dan membuatkan akun Periscope.


Itu nenek yang pertama. Duanya lagi manusia Bumi biasa yang sering laper tapi ngantuk setiap tengah malem.

Intinya, gue sedih dan minta maaf karena blog ini sempat terabaikan.

Iya-iya, gue juga sadar dan mau memperbaiki diri, kok.

Tapi gak janji, ya.

Oke, sekian dulu meracaunya. Karena beberapa hari yang lalu, ada sebuah kebetulan yang berhasil mendaratkan tamparan di pipi gue dan membuat gue ingin menjadi keledai anti-mainstream. Keledai yang gak mau jatuh di lubang yang sama.

Kejadiannya berlangsung di dalam kereta saat gue dan dua orang teman akan berkunjung ke Bogor untuk… oke, lupakan, karena kami sendiri bingung ke sana mau ngapain.

Waktu itu sekitar pukul 3 sore. Setelah berhasil rebutan tempat sama om-om buncit yang ngaku lagi hamil, gue akhirnya bisa duduk leluasa di kursi Commuter Line yang terbilang nyaman kalau dibandingkan sama sofa di rumah yang busanya udah setipis dompet. Gue duduk leluasa dan melakukan ritual setiap dalam perjalanan: dengerin musik sambil melamun. Namun karena makin ke bawah playlist lagu yang diputar makin sendu, jadi demi suasana hati tetap cerah, gue putuskan untuk matiin musik dan ngobrol saja.

Beberapa saat setelah keluar dari Jakarta, seorang pria yang duduk di sebelah gue berbicara dengan bahasa Indonesia, ‘Mas, itu temennya dibilangin, kasian Ibunya.’

Dia ngomong sambil nunjukin seorang Ibu yang sedang menggendong anak kecil. Intinya, pria ini pengin temen gue untuk berdiri agar si Ibu ini bisa duduk. Gue sendiri belum sempat bertindak karena baru menyadari kehadiran si Ibu setelah dia ngomong. Sementara temen gue, mungkin dia cuma menunggu waktu yang pas

untuk ditegur duluan.

Jadi setelah pesan pria di sebelah gue sampaikan, dengan agak kaget temen gue langsung berdiri. Dari sikapnya, kayaknya dia memang baru sadar akan kehadiran si Ibu. Kemungkinannya, si Ibu ini emang baru naik di stasiun terakhir atau baru pindah dari gerbong lain. 

Entahlah, yang jelas, ada sesuatu yang melintas di pikiran gue: Kalau pria di sebelah gue udah sadar duluan, kenapa gak dia aja yang berdiri dan menawarkan tempat duduk?

Mental tukang ejek kelas kakap gue pun kambuh. Gue berkata kepada temen gue yang sekarang lagi berdiri gak jauh di depan gue. Dengan bahasa Minangkabau, gue berkata, ‘Gue heran, kenapa gak dia aja ya yang berdiri?’

Teman gue nyengir. Sementara itu, si pria yang duduk di sebelah gue menepukkan tangannya ke pundak gue. 

Kencang.

Banget.

‘Saya bukannya tidak mau berdiri, tapi badan saya keberatan untuk berdiri,’ katanya, pake bahasa Minangkabau. Iya, bahasa yang gue pake untuk menyindirnya barusan. Dan iya, dia ngomongin berat badannya yang bikin dia males berdiri. Gue sendiri masih bingung ini beneran terjadi apa enggak. :/

Gue kaget. Selanjutnya dia terus menggunakan bahasa Minangkabau.

‘Nah, itu pelajaran buat kamu,’ katanya lagi.

Gue yang masih gak tahu salah apa (selain nyindir dia tepat di depan muka), memasang senyum getir, berusaha nggak terintimidasi oleh seseorang yang mungkin 10 tahun lebih tua. Si Uda (panggilan kakak laki-laki dalam Minangkabau) terus-terusan ngomel. Gue diceramahi habis-habisan; mulai dari disuruh membuang budaya buruk (ternyata selama ini gue gak berbudaya baik, ya..), sampai kuliah singkat Budaya Alam Minangkabau.

Dalam hati gue masih kesel, dia barusan menyuruh orang lain buat berdiri padahal dia sendiri lagi duduk. Oke, gue gak bakal terheran-heran seandainya dia negur temen gue dengan kondisi berdiri (artinya dia gak punya tempat duduk buat dikasih ke si Ibu). Tapi… ya sudahlah.

Setelah kereta menuju stasiun Citayam, si Uda pamit ke gue. Dia ngobrol sebentar ke temen gue yang lagi berdiri, yang setelah gue tanya ngomongin apa, teman gue bilang, ‘Gue disuruh ngajarin lo etika.’

Bahkan sampai detik ini, gue masih introspeksi sama kejadian waktu itu. Apa gue emang salah, ya?

._.
Advertisements

2 thoughts on “Dikerjain Semesta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s