Mudik: Ritual Melepas Kangen

Setelah turun dari taksi, gue memutar pandangan sejenak untuk beradaptasi dengan suasana bandara siang itu. Selain kepala yang agak pusing karena cuaca panas, dada gue juga sedikit sesak karena menyesali ongkos taksi yang mahal banget. Kenapa gue gak cari alternatif lain aja, ya? Mungkin next time gue ke bandaranya bakal nyicil jalan kaki beberapa ratus meter per harinya.

Menjelang lebaran, sudah sewajarnya bandara yang biasanya ramai menjadi lebih sesak. Untungnya, gue dan dua teman lain masih bisa berjalan leluasa dengan bawaan kami masing-masing. Kami berhasil check-in tanpa dicurigai sebagai imigran gelap.

Kami bertiga duduk di ruang tunggu depan boarding gate F5. Gue bersebelahan dengan seorang bapak-bapak yang mungkin, berusia pertengahan 50an, yang sibuk dengan bacaannya. Sepertinya novel. Daripada itu, ada kesenangan tersendiri ketika menemukan orang Indonesia yang memanfaatkan waktu luangnya dengan membaca. Entah karena gue pengin aktivitas membaca itu menjadi budaya, entah karena gue sendiri yang memandang hal itu keren, dan ingin hal keren tersebut dapat ditemukan di mana-mana. Sementara si Bapak sibuk dengan bacaannya, gue menyodorkan hape ke salah seorang temen buat foto-foto. Lumayan, buat ganti dp.

•••

Beberapa jam kemudian, pesawat kami landing di Bandara Internasional Minangkabau. Gue melepaskan seat belt dan menunggu dengan perasaan campur aduk. Ada sebaris pertanyaan yang mondar mandir di pikiran gue sejak kemarin. Kalau yang kita sebut rumah tidak lagi mendatangkan rindu, yang salah apa, ya?
Gue bukannya gak rindu kampung halaman. Gue kangen Padang juga, kok. Rasa penasaran kotanya sekarang seperti apa juga masih kuat. Adakah persimpangan yang gue akrabi sejak zigot mulai tampak berbeda? Berapa persen perubahan jalanan yang dulu gue lalui setiap hari setelah diisi bangunan demi bangunan baru? Masih teduhkah jalanan menuju GOR H Agus Salim, atau mulai tandus karena beberapa pohon ditebangi?

Gue meninggalkan kota ini setahun lebih yang lalu dengan antusias tinggi tinggal di kota yang lebih besar. Belakangan gue sendiri sering bertanya-tanya, apa cuma gue yang pengin jauh dari kenyamanan? Apa gue doang yang bego? Beberapa teman dekat malah sering cerita kalau mereka sebel tinggal di kota padat penduduk. Kalau sebel, yaa gue juga suka sebel sih. Ke mana mau pergi ada aja yang bikin emosi. Selain itu, populasi manusia bau ketek juga lebih banyak di kota besar.

Tapi pertanyaan tersebut gue biarkan mondar-mandir sesukanya. Gak perlu buru-buru untuk dijawab.

•••

Begitu tiba di Padang, semuanya terasa lebih sepi, tenang, dan diam. Aroma tanah yang basah setelah hujan gak lagi bercampur dengan terlalu banyak asap kendaraan. Artinya, Petrichor gak cuma bisa dinikmati di kebun belakang rumah atau di lapangan yang jauh dari jalan besar.

Dan bagi gue, inilah mudik. Ritual melepas kangen.

Advertisements

7 thoughts on “Mudik: Ritual Melepas Kangen

  1. Kalo menurut gue sih home is where the mom is 😀
    Dan gue akan selalu rindu dengan apapun yang berhubungan dengan ibu. So, gue setuju banget kalo lo bilang mudik itu ritual pelepas rindu.
    Selamat mudik, selamat melepas rindu dengan orang-orang tersayang 🙂
    Btw, salam kenal yaa ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s