Mengantisipasi Penyesalan

Penyesalan. Paling tidak itu yang tampak samar di benak gue, ketika membayangkan di masa depan nanti ada hal yang tidak sempat, atau tidak pernah, gue kerjakan sejak sekarang. Sebenarnya, penyesalan sudah terjadi. Berkali-kali, malah. Coba pikir, manusia mana yang gak pernah menyesal dengan keputusan yang pernah dia ambil di masa lalu? Atau, sesuatu yang dia lewatkan tanpa sadar kalau itu akan mendatangkan rasa nyesek di kemudian hari.

‘Seandainya dulu gue ambil jurusan atas kemauan sendiri, mungkin kuliah gak bakal seneraka jahanam ini…,’ ‘Kalau aja waktu itu gue ngomong ke dia, mungkin kita udah menikah dan punya anak lucu-lucu…,’ dan masih banyak lagi ‘seandainya’, ‘kalau saja’, atau ‘seharusnya’ berputar-putar meneror hidup kita sekarang seperti sekumpulan Dementor yang menari menyibakkan keputusasaan. Gue sendiri sekarang sedang ngerjain sesuatu yang sering membuat gue pengin jedotin dengkul ke tembok sambil memaki, ‘Bego! Kenapa gak dari dulu sih?!’ 

Gue hobi membaca sejak kecil, sejak Nyokap datang membawakan komik Doraemon vol. 38 (kalau nggak salah) yang dia pinjam dari saudara buat gue baca. Setelah itu gue jadi sadar akan kehausan gue terhadap bacaan, yang pada akhirnya membuat hari-hari gue setelah itu diisi dengan membaca komik-komik lainnya. Doraemon, Naruto, dan One Piece adalah yang terbaik sampai sekarang. 

Terus, apa yang bikin gue nyesel? 

Yap. Seandainya gue lebih cepat ngeh dengan passion gue di bidang baca-tulis itu, gue pasti bisa mulai ngerjain sesuatu lebih awal juga. Kalau itu terjadi, mungkin pas SMP gue udah mulai konsisten ngeblog, atau tahun pertama SMA gue udah punya naskah untuk dikirim ke penerbit. Kalau saja gue menulis sejak SMP, gue yakin tulisan gue sekarang lebih mateng, lebih khas dan punya voice tersendiri. Akan tetapi, sayangnya gue baru tekun menulis sejak tahun terakhir di SMA.

Tapi, gue berjanji ke diri sendiri. Gue harus berdamai dengan keputusan yang pernah gue ambil. Atau, gue harus ikhlas dengan apa yang pernah gue lewatkan di masa lalu. Katakanlah gue pernah ditawari sesuatu yang menggiurkan, yang kalau gue ingat-ingat sekarang, gue bakal milih mati dengan nyeburin diri ke lautan keringat ketek supir angkot. Contohnya, gue pernah ditaksir oleh cewek yang waktu itu biasa aja, gue bikin dia patah hati dengan menganggap dia nggak ada, tapi sekarang si cewek menjelma menjadi supermodel yang potongan tubuhnya dengan busana-busana trendy menghiasi banyak sampul majalah. Gue nyesel, dong? Mungkin lebih baik gue mati aja kemudian bereinkarnasi menjadi keledai yang jatuh ke selokan yang sama.

Oke, mari sejenak lupakan yang udah lewat. Fokus ke masa sekarang. Masa lalu gak bisa diubah dan gak bisa diutak-atik seperti ngedit cerpen di adegan tertentu. Daripada terus berkutat dengan kegalauan, gimana kalau gini aja: ambil hikmahnya. Petiklah sesuatu dari kenangan, lalu gunakan untuk masa mendatang. Atau dalam bahasa simpel dan gak sok puitisnya: belajarlah dari masa lalumu.

•••

Kemarin, gue ngadain bukber dengan dua orang sohib gue dari awal SMA. Dua orang yang membuat gue selalu berapi-api ngomongin soal masa depan. Setelah makan di Food Hall Mall Alam Sutera, kami ngopi di lantai atas. Kopinya 32ribu, yang bagi anak kosan seperti gue terbilang sangat mahal nyet. Tapi karena sesekali doang, ya gakpapalah. Kami bertiga pun ngobrol panjang tentang banyak hal. Mulai dari ngerjain proyek kecil-kecilan dalam waktu dekat, sampai mikirin prospek karir buat jangka panjang.

Gue sendiri sebenarnya udah menyelesaikan satu pekerjaan, yaitu naskah gue yang sekarang lagi di penerbit. Naskah itu mulai gue tulis sejak Desember 2 tahun silam, berawal dari 1 bab yang seratus persen iseng tentang penolakan cinta seorang teman. 3 bulan setelah dikirim, gue mendapat kabar kalau naskah gue ditolak. Gue ingat Nyokap ngirimin naskah itu dari rumah (karena gue pakai alamat rumah di Padang) ke kosan di Tangerang. 

Gue kecewa. Meskipun udah mengontrol ekspektasi biar gak tinggi-tinggi amat, gue tetap saja kecewa. Bagi gue, seorang penulis pemula, naskah itu adalah hasil kerja keras gue selama kurang lebih 4 bulan. Relatif singkat memang, kalau dibandingkan penulis-penulis lain yang menyelesaikan buku mereka bisa dalam hitungan tahun. Tapi tetap saja, 4 bulan itu merupakan pengorbanan.

Namun setelah gue baca form penilaiannya, gue putuskan untuk merevisi naskah tersebut. Kalau berkarya, gue gak boleh menjadikan profit dari karya tersebut sebagai goal

Maka 5 bulan berikutnya gue habiskan dengan editing. Perbaikan di sana-sini, menambal lubang di berbagai tempat, potong potong potong, lalu dipoles seapik-apiknya (tentu saja apik menurut gue sendiri. Menurut editor? Belum tentu). Gue juga membeli beberapa buku tips menulis dari penulis yang udah punya nama. Setelah semuanya beres, gue putuskan untuk nganterin langsung ke kantor penerbit. 

4 bulan setelah itu, naskah gue masih gak ada kabar. Feeling gue bilang, gue bakal kecewa lagi.  Gue sering nelepon redaksi buat nanyain, tapi entah kenapa telepon gue gak pernah diangkat. Pas akhirnya diangkat, gue nanya dan langsung minta disambungin ke editor yang megang naskah gue. Kami ngobrol sebentar, terus dia nanyain, “Soft copy-nya masih ada nggak?”

Gue tertegun, apa mungkin dia mintain soft copy-nya agar naskah gue bisa diproses lebih lanjut di komputer? Gue udah panik, stres, gak sabaran, tapi tetap gak berani nanyain buat apa. Akhirnya gue cuma menjawab, ‘Ada.’ Dan besoknya gue kirimin lewat surel.

Beberapa hari setelah itu, gue masih penasaran dengan status naskah yang gue anterin sebelumnya. Maka isenglah gue tanyain lewat Twitter, naskah yang gue kirim lewat surel apa kabar? Editornya, tanpa minat yang berarti, membalas sekenanya beberapa jam kemudian, ‘Dibaca dulu, ya.’ 

Gue akhirnya tahu nasib naskah sebelumnya. Kalau nggak dimakan tikus, ya dijadiin adonan buat kue lebaran.

Gue terpaksa ikhlas lagi nungguin 3-4 bulan ke depan. Selama menunggu itu, gue komitmen buat seriusin blog ini. 1 postingan per minggu. Karena gak ada buku yang dikerjain, frekuensi gue menulis jadi menurun drastis. Yang biasanya gue bisa ngabisin 4-6 jam duduk dengan tangan di atas keyboard, setelah itu berkurang lebih dari setengahnya. Gue menulis pas lagi mood doang, atau pas kepepet deadline postingan blog. Kalau nggak, ya ngetweet.

Tapi meskipun gue sedikit menulis, jam-jam kosong gue tetap banyak gue habiskan dengan membaca. Gue mulai membaca buku dari penulis yang direkomendasikan banyak orang di Twitter. Dalam sela waktu, gue juga sering berpikir, kok rasanya orientasi gue jadi sedikit melenceng, ya? Gue pengin berkarya, dan gue bisa berkarya. Tapi kenapa gue begitu ngotot pengin sesegera mungkin nerbitin buku? Kenapa harus buru-buru? 

Setelah instrospeksi diri, meskipun gak sekaligus, gue kembali berusaha menyetir orientasi gue ke jalur semula. Gue berkarya, ya udah berkarya aja! Gak perlu pusingin apa yang bakal gue dapet dari itu, paling nggak untuk sekarang karena untuk masa depan, gue tahu penghasilan dari berkarya juga jadi kebutuhan. 

Dan gue pun memutuskan untuk berkarya, menulis sebanyak-banyaknya untuk memperbanyak jam terbang. Terserah mau dipublish atau enggak. Yang penting tetap berkarya, karena gue gak mau di masa depan nanti gue mengeluhkan hal yang sama dengan sekarang: penyesalan karena terlambat memulai.

•••


Kamu gimana? Udah mulai berusaha mengantisipasi penyesalan? 😀
Advertisements

12 thoughts on “Mengantisipasi Penyesalan

  1. Boleh curhat, gak?

    Mungkin kisah perjalanan kita agak mirip. Saya sudah menyukai menulis sejak dari Sekolah Dasar, dan baru sadar setelah dinyatakan lulus di jurusan Ekonomi kampus negeri beken di daerah gue. Pada saat itu gue tetap jalanin dua-duanya. Kuliah sebagai mahasiswa Ekonomi dan tetap menulis untu blog. Baru dua tahun terakhir ini gue begitu aktif menulis dan ikut lomba sana-sini. Juga menulis naskah untuk penerbit. Total, sampai sekarang naskah gue udah nggak kehitung berapa yang udah gue kirim ke penerbit, nggak ada yang direspons. Tapi gue belum menyerah sampai gue publish komentar ini. Gue masih nulis. Gue masih punya impian. Dan gue berharap, semua impian terbesar kita bisa terwujud. Good luck, Bro!

    Like

  2. tetap semangat mas, saya sendiri sampai sekarang belum juga menulis buku atau media, beraninya hanya di blog, mungkin ada perasaan khawatir dengan penolakan yang bisa bikin sakit disini… #tunjukdada… jadi sekarang saya seriusin di blog aja… 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s