Selamat Datang Kembali, Ramadan

Marhaban ya Ramadan.

Selamat datang, Ramadan.

Atau seharusnya: Selamat datang kembali, Ramadan.

Karena udah masuk hari ke empat puasa, mungkin agak telat kalau gue baru menulis dan ngepost ini sekarang. Tapi ini bukanlah soal menyambut datangnya bulan ke sembilan dari dua belas bulan di tahun Hijriah ini. Bukan soal perkara berburu jajanan ta’jil menjelang senja, bukan soal mencemaskan berat badan yang bakal turun habis-habisan selama sebulan ke depan. Tapi ini tentang mengingat apa yang telah ditinggalkan oleh Ramadan kepada gue. Kilas balik dari Ramadan sebelum ini, sebelumnya lagi, sebelumnya lagi, dan sebelumnya lagi.

Coba bayangkan, seorang bocah SD yang sedang menongkrongi lapak seorang pedagang di depan masjid. Bermacam-macam mainan digelar di sana. Tapi di antara banyak mainan yang ditawarkan, gue dengan kain sarung yang melingkari leher, mengambil sebuah kotak dengan plastik transparan di depan yang menampakkan isi dalamnya. Sebuah mainan laser seukuran jari tengah dengan beragam lensa tambahan di dalamnya. Jadi, kalau lensanya dipasangin ke si laser, tembakan cahaya dari ujungnya bakal ngebentuk macam-macam benda. Dari yang hanya berupa titik kecil merah bisa menjadi gambar laba-laba, logo Batman, sampai wajah samping mantan yang tertutup air mata. 

Oke, yang terakhir cuma bisa dilihat kalau lagi baper.

Setelah musim laser habis, gue beralih ke petasan-petasan unyu yang bunga apinya sering menghiasi galeri Instagram atau Flickr fotografer zaman sekarang. Favorit gue waktu itu sih petasan gasing, soalnya 1) dia mengingatkan gue sama bumi yang berputar pada porosnya, yang seringkali membuat gue melamun betapa cepatnya waktu berlalu, dan 2) gue penggemar anime Beyblade. Beybladers favorit gue adalah Takao, Kai, Melody, Nabilah, dll.

Setelah laser dan petasan gasing, kegiatan gue selama Ramadan disusul oleh petasan petasan lainnya. Gue berani jamin, mayoritas bocah seumuran gue waktu itu mungkin (menjamin, tapi tetap pake “mungkin”) pernah ngerasain jadi pengguna barang haram tersebut. Iya, petasan jangwe, yang mana buat dapetinnya harus punya koneksi sama bandarnya. Kalau dulu kamu cuma bisa nitip ke temen buat dapetin jangwe, kamu bisa dibilang kurang piknik. Cupu. Anak rumahan. Banci. Berantemnya cuma dorong-dorongan doang. *mendadak emosi*

Karena toleransi masyarakat waktu itu nggak sekecil sekarang, praktis pagi siang malam suara jangwe kedengaran di mana-mana. Di lapangan, di jalanan pagi yang lengang, di rumah mantan. Bagi gue, tempat yang pantas dihujani petasan jangwe adalah rumah mantan. Apalagi yang orangtuanya gak pernah ngizinin dia main sama kita waktu masih jadian. Apalagi yang alasannya adalah karena kita nggak cukup tajir buat dia. Iya, bisa bikin nyaman aja emang nggak cukup. Sialan. *emosi lagi*

Setelah menginjak remasa, ledakan petasan gak lagi menyenangkan. Malah gue jadi sering kesel sendiri sama bocah-bocah yang mainin benda yang dulunya juga gue mainin itu. Kegiatan gue selama Ramadan pun jadi lebih sehat. Selepas salat Subuh di masjid, gue jalan-jalan di sekitaran tempat tinggal bareng temen sepermainan. Udara pagi kota Padang di bulan Ramadan gak tergantikan. Setelah langit cukup terang, kita berhenti di pinggiran lapangan dan bersiap main sepak bola. Dulu, untuk bisa main bola gak perlu properti yang mewah-mewah. Gak perlu nyewa lapangan, gak perlu punya gawang karena sandal aja udah cukup dijadiin tiang.

Efek dari olahraga pagi itu terasa setelah siang. Gue dehidrasi dan merasa kebutuhan air lebih penting daripada apa pun di dunia ini, seperti penguin yang diasingkan ke neraka. Daripada mati kering kerontang, gue pun memutuskan untuk mempercepat waktu buka puasa dengan duduk mangap di bawah kran yang terbuka. Entah kenapa, air kran yang mengucur langsung ke kerongkongan itu terasa sejuk seperti surga. Nah, setelah dahaga gue terpuaskan, biasanya gue akan menuju kasur dan bersikap layaknya orang yang lagi kelaparan kehausan di depan nyokap. Gue juga berusaha sebisa mungkin menampilkan yang terbaik saat buka puasa sebenarnya. Makan secara brutal.


Bagi gue, salah satu berkah Ramadan itu adalah keluarga. Kalau kamu bisa melewatinya dengan itu, selamat. Kalau nggak, yang sabar ya gue juga sama kok.

Perbedaan puasa sendirian dengan bareng keluarga itu gampang banget kerasa. Contoh kecilnya, tepat kemarin gue ngidam mampus-mampusan sama kolak. Begitu pulang kerja, gue langsung mampir di gerobak yang jualan kolak di dekat kosan, membeli sepiring. Tapi begitu kolaknya tersaji di depan mata, entah kenapa selera makan gue hilang bahkan hanya dalam beberapa suapan. Kangen tapi seketika lenyap ditelan bisunya tengah malam. Gue cicipi, rasanya lumayan enak, kok. Gak jauh-jauh amat sama bikinan nyokap. Padahal di rumah, kolak seperiuk juga tahannya cuma beberapa jam sebelum habis sama gue yang rakus.

Selain itu, ngelewatin sahur dengan dibangunin nyokap (bukan alarm) itu merupakan kenikmatan tersendiri. Biasanya gue akan makan dengan setengah ngantuk. Bagi nyokap, seberapa besar pun hasrat gue pengin lanjutin tidur, makanan di depan harus dihabisin. Anehnya, begitu sahur dan Subuh kelar, gue malah melek semelek-meleknya. Rasanya tayangan kartun pagi lebih menarik daripada kasur yang tadi gue tinggalin. Udara pengap di kamar gak lebih bikin ketagihan daripada jalan-jalan di luar.
Bagi beberapa orang, album demi album musisi favoritnya adalah hal yang menemani mereka bertumbuh. Bagi sebagian lainnya, chapter demi chapter Manga favoritnya. Gue sendiri pun merasa sama. Album pertama Peterpan yang gue dengar bisa memancing perasaan nostalgic kalau dengar album terbarunya Noah sekarang. Gue juga udah ngikutin Naruto sejak SD, chapter demi chapter, mulai dari beli komik originalnya sampai baca online doang. Sekarang, tahu-tahu udah tamat aja. Gue kira, hal-hal semacam itulah yang menemani gue bertumbuh. Gue gak sadar gimana usia gue bertambah seiring dengan Ramadan yang datang dan pergi. Gue lupa betapa besarnya hal-hal yang terdapat dalam Ramadan bersinggungan dengan hidup gue. 18 tahun, 18 Ramadan. Gue bahkan bisa membayangkan, suatu hari nanti anak-anak gue akan menadahkan tangannya minta duit buat beli ta’jil. Atau gue yang mengantarkan anak dan istri ke pasar, beli bahan-bahan masak, terus ngabisin waktu di dapur. Gue nggak akan membatasi pergaulan anak-anak. Biarlah mereka kenal sama bandar jangwe atau bom atom (siapa tahu di masa depan bom atom udah jadi mainan bocah) atau apa pun yang hits di zaman itu. Gue cukup nasehatin mereka secara bijak, kalau mau perang mercon sama anak komplek sebelah, rumah mantan adalah medan yang pas.

Yang terpenting, semoga di masa itu gue ditemani bahagia.

Ramadan persis seperti mantan yang meninggalkan keping demi keping kenangan manis di hidup kita. Mungkin perlakuan kita jelek, mungkin kita kasar, tapi dia tetap menawarkan tangan untuk digenggam. Ramadan senantiasa mengacungkan kelingkingnya untuk dikaitkan. Ramadan adalah bulan di mana makanan seadanya bisa terasa sangat mewah. Entah Ramadan kita isi dengan ibadah sebagaimana mestinya, entah dengan tidur terus sepanjang hari, entah masih dengan maksiat, tapi Ramadan selalu dikangenin. Gak ada festival yang lebih ramai daripada pinggir jalan di bulan Ramadan.

Gue harap, sampai kenyataan (atau sebutlah, kematian) memisahkan kita dengan Ramadan, kita udah berhasil menemukan diri kita yang sesungguhnya. Kita udah seratus persen, seribu persen, atau bahkan semiliar persen kukuh dengan keyakinan kita sekarang.

Sampai itu tiba, semoga Ramadan tetap bersama kita.
🙂
Advertisements

One thought on “Selamat Datang Kembali, Ramadan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s