Untuk kamu

yang menulis permulaan.

•••

Gue iseng berhitung; ada dua ratus tiga puluh ribu dua ratus sembilan puluh enam hal di dunia yang mampu menculik gue dari kenyataan. Dari pikiran yang lurus, dari kesadaran yang jernih. Dari apa pun. Dan sialnya, dari sekian banyak hal itu, seratus persennya terdapat pada cewek yang duduk di depan gue sekarang.

Gue dan dia masih duduk di sana, di sebuah meja kecil di pojokan kafe. Orang berlalu lalang di dalam, kendaraan datang dan pergi di lahan parkir kecil di luar yang bisa gue amati dari posisi sekarang. Bayangan seseorang tercetak jelas di tanah, tebal dan hitam, yang artinya matahari masih sama teriknya seperti tadi. Sementara di dalam, lagu demi lagu masih mengiringi detak jarum jam. Kesimpulan dari semua itu adalah, kehidupan masih berjalan normal. Tidak ada yang berbeda. Akan tetapi, anehkah kedengarannya kalau gue bersumpah bahwa waktu berhenti begitu gue melihat dia?

Sialan, batin gue. Gue gak bisa gini terus. Gue gak boleh mengulangi 3 tahun gue yang diam-diam lagi.

Gue pun menyesap espresso untuk kali ke sekiannya. Faktanya, gue tidak butuh kafeina untuk mengusir apa pun. Gue sangat segar siang ini, seperti es batu yang mengkristal tepat setelah memasuki freezer. Tapi untuk melenyapkan posisi duduk gue yang canggung sedari tadi, gue butuh sedikit gerakan.

‘Jadi, lo suka Murakami sejak kapan?’ tanya gue, menjatuhkan padangan di Norwegian Wood yang terletak di atas meja.

‘Hm?’ dia memajukan wajahnya, sepertinya Murakami membuatnya antusias. ‘Ini gue beli beberapa bulan yang lalu, sih. Tapi belum sempat dibaca karena, yah, lo tahulah, my unread books cuma numpuk di kamar dengan sampul plastik yang semakin berdebu.’

‘Gue tanya, sejak kapan lo suka Murakami,’ kata gue.

‘Loh, iya. Kok gue gak nyambung ya? Hahaha!’
Dia tertawa, dan dada gue seperti ditelan kelopak matanya yang menyipit ketika melakukan aktivitas menggemaskan itu. Sementara itu, aroma dari pengharum biji kopi di setiap sudut kafe menghiasi udara di sekitar kami. Bagi gue, bau kopi identik dengan bau jatuh cinta.

‘Tapi, kayaknya lo bener. Hmm…,’ gue manggut-manggut, ‘ternyata ada juga ya, persoalan untuk kaum seperti kalian.’

‘Kaum kami?’ dia tersenyum. ‘Tapi emang iya. Persoalan waktu. Gue tuh suka ngerasa aneh, deh.’
‘Aneh maksudnya?’

‘Iyaaa aneh. Lo bayangin, deh. Semakin banyak buku yang pengin gue baca, entah kenapa semesta malah membuat kehidupan gue semakin sibuk. Hari-hari gue habis dengan ngurusin jutaan hal kurang penting di dunia, sampai-sampai gue…,’ dia menunduk, menghembuskan napas, ‘gue kehilangan jatah me time yang biasanya gue pake mengurung diri di kamar. Baca buku sambil selimutan.’ 

Dia menyesap pelan latte yang sedari tadi didiamkan. Gue gemas melihat tempelan busa di bibir atasnya. Seandainya gue pujangga alay, mungkin gue akan berteriak lantang saat itu juga, ‘Wahai wanita, izinkan aku menyeka busa susu di bibir atasmu dengan ijuk cintaku. Kemarilah, sayang.’

Tapi gue bukan pujangga, apalagi dengan tambahan alay. Jadi, gue hanya memberitahunya dengan gerakan menunjuk bibir sendiri dan berkata pelan, ‘Itu, tuh, di bibir lo.’

Setelah itu, gue kembali bertanya, ‘Kalau komik, lo suka gak?’

‘Komik…, hmm…, lumayan. Komik tuh kayak gabungan film dan novel. Ada media buat baca, ada juga media gambar.’

‘Sayangnya gak gerak ya…,’ potong gue dengan bego.

‘Harry Potter, dong, kalo gerak! Hahaha!’ 

Loh, kok dia ketawa? Ternyata kebegoan gue menyimpan unsur humor tersembunyi.

Setelah itu kami berdua diam. Biasanya di film-film, di momen seperti ini yang terjadi adalah 1) kedua orang sedang mencari topik baru buat diobrolin, atau 2) si cowok lagi meraba kolong meja mencari kardus tempat dia menyembunyikan cincin berlian dan badut pesta. Sementara di kehidupan nyata, yang gue lakukan adalah mengamati lekat-lekat cewek di depan gue. 

Tanpa sadar, gue memanggil namanya.

‘Ya?’ dia merespons dengan wajah polos. Gue terdiam. Sialan! Kenapa dialog dari film yang gue putar dalam kepala malah bocor keluar gini?!

‘Err…, gak, kok. Gue lupa mau ngomong apa.’

‘Aneh,’ katanya, tersenyum. Dia kemudian memperbaiki posisi beret yang melingkari separuh kepalanya. Sebelah tangan ia gunakan untuk menggeser poni, sehingga sebagiannya menyapu alis sebelah kiri, dan sebagiannya lagi terurai melewati ujung mata luar sebelah kanan. Sementara itu, anting kecil yang berkilau di bawah beret merah jeruknya senada dengan warna tengah hari. Promise Her the Moon-nya Mr. Big mengalun datar dari pengeras suara tersembunyi di kafe ini. Gue memajukan posisi duduk, dengan sebelah tangan menopang dagu. Eric Martin menjanjikan bulan? Persetan, untuk dia, gue bisa menjanjikan galaksi.

Kemudian tanpa dikomandoi, otak gue langsung mengingat momen kelulusan kami beberapa hari yang lalu. Gue penasaran dia mau ke mana setelah lulus SMA. Cukup penasaran, sampai bisa montarkan sebuah pertanyaan basa-basi, ‘Lo setelah ini ke mana?’

‘Maksud lo? Kuliah gue?’

‘Iya. Ngambil sastra ya? Cocok tuh,’ kata gue, sotoy. ‘Pasti keren orang hobi baca kayak lo jadi penulis berita.’

‘Hahaha! Itu mah jurnalistik. Nggak, kok. Gue mau ngambil desain. Sastra kayaknya lebih enak belajar sendiri, deh. Tapi kalo desain, kita bakal difasilitasi kampus.’

Gue mengangguk paham. Dia terus bercerita. Gimana hidupnya sangat berwarna dengan obsesi yang berubah-ubah, tapi tetap dengan hobi yang konsisten. Dia pernah berita-cita jadi seniman teater, kemudian jadi penulis buku, lalu sekarang jadi seorang graphic designer. Gue membayangkan dia bakal kerja mendesain spanduk-spanduk kampanye caleg.

Dia sendiri adalah tipikal cewek yang sanggup bikin cewek-cewek lain menggigit siku mereka karena iri. Cantik, pintar, menarik. Ya ampun, betapa basinya cara gue menggambarkannya! Tapi, mau gimana lagi? Gak ada pergerakan rasi bintang atau mahakarya abad 20 yang bisa dipakai untuk menggambarkan cantik pintar menariknya. Dia memiliki kemutlakan untuk itu, sehingga bisa digambarkan cukup dengan kata sifat saja: cantik, pintar, menarik.

Dia masih berapi-api menjalari waktu kami dengan kisah hidupnya. Gue pengin menyinggung soal hobi sepak bola gue waktu itu, tapi gak tahu harus mulai dari mana. Bisa saja, itu topik yang tidak diminatinya. Zaman sekarang memang banyak cewek dengan jersey-jersey klub bola Eropa yang mengambil tempat di kafe-kafe lokasi nonton bareng, tapi kemungkinan sepak bola masih membosankan bagi sebagian cewek juga tetap ada.

Gue menuntun telunjuk untuk menekan tombol home handphone di atas meja, ngecek jam. Gue kaget melihat angka di sana. Pukul 17:32. Seingat gue, kali terakhir gue ngecek jam adalah 4 jam yang lalu. Yes, time warping. Dia yang sepertinya menyadari kekagetan gue berkata, ‘Udah sore, ya? Kok, gak terasa, sih?’

Gue tersenyum. Dia tersenyum. Kami tersenyum. Gue tahu, gue jatuh cinta sekarang. Dan dia juga, entahlah…

Sebelum senja, kami memutuskan untuk menyudahi pertemuan kali ini. Kami sama-sama percaya, akan terus ada pertemuan seperti ini. Ini bukan yang terakhir. Akan masih ada debaran demi debaran jantung gue yang terlambat menyadari gimana bumi begitu cepat berotasi.

•••

September 2019. Pukul 23:27.

Aku berdiri dari tempat duduk, menyetop pemutar lagu di laptop, lalu berjalan menuju dapur untuk membilas gelas bekas kopiku. Kalau dihitung-hitung, hampir delapan jam kuhabiskan di depan laptop. Menulis panjang-panjang dengan gaya menulis orang lain yang susah kukuasai. Selain itu, kamus di atas meja kerjaku juga semakin mengembang karena banyaknya lipatan penanda halaman.

Empat tahun berlalu sejak pertemuan pertamaku dengannya. Aku ingat percakapan kami waktu itu. Dia sering bertanya, malah keseringan, ketika lulus nanti aku akan bekerja di mana. Kenyataannya, setelah lulus aku magang sebentar si sebuah penerbit mayor di Jakarta Pusat, mengunjuk skill yang sudah empat tahun kutebalkan di universitas. Menjadi seorang graphic designer.

Namun setelah kejadian itu, aku ingin beralih profesi.

Tepatnya, setelah malam ulang tahunku yang ke-22. Waktu itu dia tidak mengabariku, tentu saja, karena sebelumnya kami sedang bertengkar dan tidak saling berkomunikasi selama 4 hari. Padahal, komunikasi adalah fondasi sebuah hubungan, betul?

Dia yang biasanya diam-diam menyusup ke kamar ketika tengah malam, membawakan kue dan berteriak sekencang-kencangnya. Dia yang tidak pernah keabisan ide mengerjaiku di saat-saat spesial, dan betapa aku terlalu gampang menangis bahagia setelahnya. Dia yang tidak pernah absen membuat rumah yang hanya dihuni oleh kerluarga kecilku ini menjadi ramai pada tengah malam. Tapi malam itu, tidak ada dia. Dan sampai pagi pun, hanya kesedihan tanpa dasar yang menyapaku.

Aku mengambil ponsel, ada yang tidak biasa pagi itu. Selain puluhan miss call dari orang-orang yang kukenal dekat, ada sebuah notifikasi pesan dari seorang teman. Sebuah foto buram yang diambil terburu-buru di jalanan ramai kota Jakarta. Foto tragis sebuah mobil sedan hitam dengan nomor polisi milik seseorang yang sangat kukenal melebihi pada diriku sendiri. Dia di sana. Pacarku, hancur mengenaskan diremukkan lalu lintas waktu.

Dan setelah itu, hari-hariku berjalan sangat lamban. Bahkan sampai sekarang, galaksi yang dijanjikannya sama sekali belum kusentuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s