Yellow

Di sela kebisingan hujan yang semakin menderas di luar, aku melamun di depan kaleng Nescafe yang isinya tinggal setengah. Kalau hujan begini, kafein ialah satu-satunya alternatif agar tubuh malasku tidak rebah di kasur sepanjang hari. Lagu “Yellow” Coldplay tidak henti-hentinya kuputar ulang dari handphone.

Selazimnya lamunan yang sering bercabang atau lari ke mana-mana, mendadak potongan wajahnya berhenti tepat di ruang imajinasiku. Terlukis kabur seiring dengan suara handphone yang samar diganggu dentuman air di loteng. Sementara itu, Chris Martin masih terus bersenandung.

Look at the stars, look how they shine for you. And everything you do, they were all yellow… ♬♪ 

Aku tetap melamun, seolah sedang duduk tepat di hadapannya, aku bertanya, “Pernahkah kamu hampir menyerah?”

Dia tidak menyahut. Tentu saja, lamunan selalu bersifat abstrak. Secara teknis maupun harfiah, dia tidak ada di depanku.

“Seperti ketika berada di ujung tebing. Kamu tinggal menunggu ada yang bersin di depanmu, dan kamu akan terjatuh ke jurang. Segalanya telah kamu kerahkan, semuanya telah kamu coba. Opsi demi opsi. Dan semuanya hanya seperti sekuncup bunga api yang terang sesaat, kemudian padam ditiup rasa frustasi. Pernah?”

Dia masih diam. Tidak satu pun kata melompat keluar dari bibir merah itu. Dia tidak menjawab apa-apa dalam suara. Tapi, dalam raut wajah, aku tahu persis apa yang tersirat.

Lamunanku berbelok arah. Aku tidak lagi duduk di depannya. Aku terbang entah ke mana, tak juga tahu setinggi apa.

I came along, I wrote a song for you. And all the things you do, and it was called yellow… ♬♪

And your hope too, batinku. They were all yellow.

Your skin. Yeah, your skin and your bones, turn into something beautiful… ♬♪

“Tahun demi tahun berganti. Bagaimana rasanya? Ada yang berubah?” tanyaku. “Ada yang semulanya tumpul, majal, yang bahkan tidak bisa digunakan untuk memotong apa pun, tapi sekarang sudah tajam dan menimbulkan kilatan bayangan ketika bertemu sinar? Adakah ototmu yang dulunya lembek seperti lontong, tapi sekarang begitu kau meregang, mereka saling tarik seperti tak mau kehilangan satu sama lain?” 

“Aku dan kamu yakin, ada,” sambungku. “Dan seperti itulah pertumbuhanmu. Segala sesuatumu berubah menjadi hal yang menakjubkan. Turn into something beautiful.

And you know, you know I love you so… ♬♪ 

I swam across, I jumped across for you. Oh what a thing to do. Cause you were all yellow… ♬♪ 

“Kamu adalah siluet yang diterpa warna-warni sinar panggung, kamu adalah bayangan yang timbul saat asap kelabu ditiup ke permukaan ketika pertunjukan dimulai. Dan aku, aku adalah penontonmu. Aku dengan tugasku sebagai penyaksi abadi adalah mengejarmu, tak peduli walau harus membelah laut dengan sebuah kapal Feri.”

Perlahan, ujung bibirnya membelok. Dia tersenyum. Senyum yang kutahu tidak ada—setidaknya di depanku sekarang.

“Makanya, di depan maupun di belakang, kamu tetap tersenyum ya? Janji?”

Aku mengaitkan kelingking kanan dengan kelingking kiriku. Anggap saja salah satunya bukan punyaku.

For you I’d bleed myself dry… ♬♪
Advertisements

6 thoughts on “Yellow

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s