The Girl Who Saved The King of Sweden: Kegeniusan, Politik, dan Bom Atom


Sebelumnya, gue minta maaf dengan gambar pengantar yang menggunakan martabak sebagai penyanding buku yang akan gue bahas. Itu hari pertama gue baca buku ini, dan kebetulan gue lagi laper. Jadi gue beli aja martabak keju spesial dengan lelehan keju parut nan menggoda di pinggirannya. Jangan ngiler ya!


Before you read the review…


Tepat seminggu lalu, gue mengikuti #TantanganBaca yang diadakan salah satu editor Bukune, @RyAzzura di Twitter. Jadi, kita ditantang untuk menamatkan sebuah buku atau lebih dalam rentang waktu satu minggu, kemudian menulis resensinya di blog. Gue sendiri tertarik dengan menulis resensinya, dan menamatkan satu judul dalam seminggu, gue rasa, berguna untuk mengurangi unread books gue yang mulai menumpuk di kos. Karena sebagus-bagusnya buku, kalo nggak pernah dibaca sama aja dusta, kan? Oke, abaikan diksi gue yang terlalu sinetron.

Selain itu, meski punya waktu buat menulis tapi jarang membaca, lama-lama tulisan gue juga akan terasa kering seperti upil yang dipeperin di kipas angin. Atau di depan AC. Atau di… oke, ini gak penting.

Jadi, setelah memutuskan ikutan #TantanganBaca, gue beralih ke keputusan buku apa yang akan gue tamatkan dalam waktu seminggu tersebut. Bukunya harus tebel, karena kalau setebel komik aja pasti bisa gue baca dalam sehari. Tapi gue juga gak mau ketebalan, takutnya gue baru bisa kelar setelah setahun.

Dan setelah itu, terpilihlah The Girl Who Saved The King of Sweden. Daripada judulnya tambah panjang, langsung aja ya gue review.


Pertama, The Girl Who Saved… ini adalah novel komedi yang menggunakan konsep “small people in big situation”. Kenapa “small people“? Karena tokoh utama di buku ini adalah seorang gadis penguras jamban yang berasal dari perkampungan kecil di Afrika Selatan. Kenapa “in big situation“? Karena sebuah perjalanan kecil yang dimulai gadis itu berlanjut dengan kejadian besar yang memengaruhi dunia.

Alkisah, Nombeko Mayeki, si gadis penguras jamban—yang belakangan menjadi manajer di perusahaan penguras jambannya—yang berasal dari Soweto, sebuah perkampungan kumuh di Afrika Selatan, ingin mengunjungi sebuah perpustakaan yang terletak jauh dari tempat tinggalnya. Dengan modal 28 butir berlian mentah yang didapatnya dari sebuah “petualangan” kecil, Nombeko pun memulai perjalanannya menuju perpustakaan nan diimpikan. 

Namun kesialan malah menimpanya di perjalanan. Nombeko malah (tanpa sengaja) dilindas oleh sebuah mobil yang disetir oleh seorang insinyur mabuk, yang pada akhirnya membuat keduanya harus berada di pengadilan. Alih-alih dibebaskan dan menerima uang tuntutan, Nombeko yang (tak sengaja) dilindas malah harus menerima vonis dan menjalani hukuman bekerja kepada si insinyur di sebuah laboratorium riset untuk pembuatan bom atom. 

Setelah waktu hukuman yang dibebankan kepadanya habis, ternyata tidak membuat Nombeko bisa pergi begitu saja dari laboratorium ini. Karena udah terlalu banyak tahu, insinyur yang (tak sengaja) melindasnya bertahun-tahun lalu hanya memberi dua pilihan kepada Nombeko: tetap tinggal, dan mati. Karena belum pengin mati, Nombeko terpaksa harus tinggal lebih lama lagi di laboratorium riset. 

Sementara Nombeko masih terus memutar otak untuk menemukan strategi kabur, bom atom yang dikembangkan di lab itu akhirnya jadi. Total ada 6, namun karena insinyur yang memimpin kegiatan ini kurang cermat dalam berhitung, bom atom yang jadi malah lebih 1. Dan keberadaan bom atom ketujuh itu akan menjadi petaka, sekaligus kesempatan kabur bagi Nombeko kalau bisa memanfaatkan situasi.

Dan dari situ petualangan dimulai…


Sama seperti karya sebelumnya, di buku ini pun Jonas Jonasson masih menggunakan komedi yang ngagetin. Kalimat demi kalimatnya yang mengalir sukses membuat gue terkejut dan akhirnya ketawa. 

Saat membeli buku ini, gue berharap Jonas Jonasson tidak lagi terlalu mengangkat isu politik seperti di The 100-Year-Old-Man…, tapi ternyata buku ini malah memakai politik sebagai penggerak ceritanya. Jadi, The Girl Who Saved… ini bisa dibilang bukan buku yang ringan sebagaimana buku komedi pada umumnya. Gue sering menemukan penjelasan yang kompleks terhadap konflik yang dialami tokoh, matematika, dan rentetan kalimat yang terlalu panjang. Selain itu, The Girl Who Saved… juga menggunakan multi-plot, jadi di awal-awal akan sedikit membingungkan.

Bagi yang udah baca The 100-Year-Old Man Who Climbed…—buku Jonas Jonasson sebelumnya—pasti akan menemukan kesamaan karakter tokoh utama di buku ini: seseorang yang banyak akal dengan keberuntungan yang berlapis-lapis. Selain itu, karakter Holger Bersaudara yang nantinya ditemui oleh Nombeko sukses menjadi stimulan jalannya cerita dan menambah kelucuan-kelucuan absurd lainnya. Gue beberapa kali ngakak karena menemukan tokoh yang dimunculkan beberapa halaman doang, abis itu dia mati dengan cara yang absurd.

Jonas Jonasson berhasil membuat isu-isu tergolong berat seperti sosial dan politik menjadi sangat lucu. Kreativitasnya menentukan peran sebuah karakter (beserta cara matinya) gak henti-hentinya memancing gelak tawa. Dalam pengamatan gue, buku ini memiliki kekuatan di karakter dan tema. Sedangkan kelemahannya, yah, gue rasa hanya pada penggunaan kalimatnya yang terlalu kompleks alias ribet nyet. Kelucuan di buku ini muncul di setiap sudut: di narasi, di dialog antar tokoh, maupun di insiden-insiden dalam ceritanya. Dan seperti yang gue tulis di atas, sebagai fiksi komedi buku ini termasuk nggak ringan. Nggak terlalu berat, tapi juga nggak ringan sehingga kurang pas buat orang yang gak terlalu suka baca.


Cukup sekian resensinya. Maaf kalau kurang lengkap, yah, gue sendiri juga masih belajar. Ini resensi pertama gue untuk buku. Untuk film, ada di post-post sebelumnya. 

Yang udah baca sejauh ini, jangan lupa tinggalin komentar ya! Happy reading! 😀

Advertisements

2 thoughts on “The Girl Who Saved The King of Sweden: Kegeniusan, Politik, dan Bom Atom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s