Gue Udah Dewasa Belum Ya?

Beberapa hari yang lalu, gue iseng membaca sebuah postingan di sebuah situs online tentang tanda-tanda kalau kita udah dewasa. Gue gak betul-betul paham, karena sampai sekarang satu-satunya yang akrab dengan gue soal dewasa adalah film. Iya, film dewasa.

Tapi setelah membaca postingan tersebut, gue jadi lebih sering berpikir, gue ini udah dewasa belum, sih? Lantas gue pun membandingkan poin-poin di situ dengan apa yang terjadi pada gue sekarang. Ini dia:


Menghadapi masalah

Di poin ini penulisnya bilang, orang dewasa itu menghadapi masalah mereka dengan directly, maturely, and  respectfully. Alias ribet amat lo. Kalo boleh jujur, gue ini termasuk orang yang gak terlalu ambil pening terhadap segala sesuatu. Terutama yang gak penting buat gue dan gak berpengaruh besar sama kehidupan cucu-cucu gue nanti.

Soal menghadapi masalah… menurut gue, ini semua tergantung sudut pandang. Hal-hal kecil bisa menjadi masalah kalau emang dipermasalahkan. Sementara masalah besar juga bakal biasa aja kalau dibawa enjoy. Jadi karena gue pengguna sudut pandang yang pertama—masalah segede apa pun, bodo amatlah—maka status kedewasaan gue di poin ini: gagal, gue masih bayi dalam kandungan.


Self-control

“Eh, Bro, Sabtu besok lo kosong gak? Nongkrong yuk. Itung-itung ngabisin duit…”

“Duh, sori, Bro. Bukannya gak mau, tapi gue lagi nabung buat berangkatin mertua umroh.”

“Oh. Ya udah, deh. Tapi ntar pulang ngaji main biliar yuk.”

“Duh, gue pengin banget, tapi gue harus fokus dulu belajar buat SNMPTN. Ntar main biliarnya pas gue udah lulus S2 aja ya…”

“…”

“Bro?”

Pada satu sisi, manusia adalah makhluk yang susah menolak kesenangan. Susah berkata tidak kalau diajak atau ditawarin hal-hal seru. Gue pun sama. Tapi gue yakin, salah satu tanda kita mulai beranjak dewasa adalah ketika udah bisa mengontrol diri sendiri. Mengontrol emosi, meskipun hal-hal yang dihadapi kadang kelewat asshole. Dalam keuangan, mengontrol pengeluaran, meskipun udah ngebet sengebetnya membeli sesuatu sejak lama (dalam hal ini bisa disebut dengan menunda kesenangan). 

Dalam hal lain, mengontrol perasaan ke pacarnya temen, alias jangan asal embat aja.

Status gue dalam poin ini: lumayanlah.


Mulai memikirkan masa depan

Inget gak sih waktu kecil pas ditanyain soal cita-cita? Misal ada sodara yang main ke rumah nanyain, “kamu udah gede nanti pengin jadi apa?”

Gue sendiri, dengan kepolosan anak kecil gue akan menjawab, “jadi dokter.” Padahal sekarang, membaca diagnosa di surat keterangan dokter aja udah bikin gue migrain. Lain lagi kalo anak yang masa kecilnya horor, jawabannya bakal lebih ekstrem, “jadi peserta uji nyali di televisi.” Kalo anak yang masa kecilnya binal, dia bakal menjawab dengan lebih porno, “kepengin jadi germo.”

Tapi itu dulu, karena sekarang gue udah tahu arti dari mimpi. Bukan, gue bukan ahli nujumnya Firaun. Maksudnya, gue udah tau passion gue di mana, cita-cita gue apa, udah bisa membayangkan kira-kira 10 tahun lagi gue di mana dan sedang ngerjain apa, bini gue berapa. Simpelnya, gue udah menetapkan masa depan dalam standar gue sendiri.

Tapi tetap, gue cuma bisa berusaha dan berdoa.

Jadi, status gue dalam poin ini: mulai terlaksana.


Berusahan ngedapetin apa yang dibutuhkan daripada apa yang diinginkan

Sebelumnya, izinkan gue membuka poin ini dengan sebuah petikan dari Coldplay: When you get what you want, but not what you need. Gue gak tau suasana hati Chris Martin waktu menulis itu gimana. Tapi bagi gue, lagu “Fix You” itu sendiri memiliki makna yang Julia Perez abis: tumpeh-tumpeh. Di tahun rilisnya saja, Coldplay berhasil meraup keuntungan sebesar miliaran bungkus nasi padang dari royalti penjualan albumnya di iTunes maupun CD fisik. Belum lagi dari tour mereka yang… tunggu, kenapa jadi bahas Coldplay?!

Oke.

Intinya, orang dewasa udah mulai tahu apa yang penting baginya. Orang dewasa mulai paham dengan: kebutuhan > keinginan. Orang dewasa ngerti betapa pentingnya mempertahankan atau menggapai sesuatu yang benar-benar harus dia punya. Untuk keinginan, mereka menempatkannya di bagian bonus atau ekstra. Sementara gue, masih memilih makan mi instan berminggu-minggu demi beli tiket konser.  

Jadi, yah, statusnya: gagal total.


Melihat dari sudut pandang dewasa

Hmm…, mungkin ini seperti menonton bokep untuk kepentingan edukasi. Gue ogah, ah.


Menghargai

Entahlah, gue kayaknya lebih suka yang gratis…

Sebenarnya masih banyak lagi tanda-tanda sesorang udah mulai beranjak dewasa. Tapi karena di poin-poin terakhir di atas aja gue udah gagal, jadi ya sudahlah. Segini dulu aja. 


Sekarang, gimana dengan elo? Udah mulai dewasa, apa masih kayak bocah-bocah yang nongkrong seharian di warnet?

Advertisements

25 thoughts on “Gue Udah Dewasa Belum Ya?

  1. “melihat dari sudut pandang dewasa” nggak nonton bokep jugaaaa.. hahaha ini sebenernya postingan yang mau bilang kalo yang nulis “masih muda” wa wa wa wa…. xD

    Like

  2. Kalok hobi sih tetep masih kayak anak kecil. Demennya gambar, trus main game. Tapi kalok uda ada masalah, baru deh.. Keliatan tuanya. Lebih cenderung ngga peduli atau umbar ke mana-mana. Uda mulai ngga labil sih. ._.

    Like

  3. gue sih pengennya ekhem,, usia boleh dewasa, jiwa tetep muda, muka kek anak bayi, babyi face gitu. XD

    nah kalau berdasarkan point-point diatas, gue pikir semakin usia bertambah, pemikiran tersebut makin dipikirin, ya kan? buktinya kamu buat postingan ini. udah tua yee? haha

    Like

  4. Sebagai anak muda yang masih kece *ehem.. Kalo ngomongin dewasa kayaknya gue sama sekali belum dewasa. Jiwa gue masih labil, masih suka emosian, nafsuan, dan masih suka seneng-seneng terus.

    Like

  5. gue selalu belajar buat menjadi dewasa. buat gue, dewasa adalah masalah mengendalikan emosi dan menyikapi sesuatu. bukan masalah umur. banyak orang yang udah umur 20 keatas tapi kelakuannya masih kayak bocah..

    Like

  6. Menurutku ya, – kamu udah jauh, bisa dibilang dewasa. Coba tanya ke aku, kok bisa? XD

    Berdasarkan postingan kupikir usiamu 20++ pak. =)) ternyata seumuran kita. *eh ngga nanya yakk >,<

    Like

  7. Berarti aku masih proses menuju dewasa ya.. Ada beberapa poin yang memang cocok seperti saya, ada pula yang jauh banget dari sikap dewasa saya.. Masih setengah-setengah kali yaaa.. hahahah

    Like

  8. Dewasa itu terencana, sedangkan anak-anak itu cenderung spontan. Orang dewasa cenderung kehilangan daya kreativitasnya karena kreativitas itu lebih dominan ketika masih terkungkung dalam jiwa anak-anak.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s