Cinta Itu Nafsu Nggak, Sih?

Sebenarnya, di umur segini masih terlalu dini buat bahas beginian. Tapi daripada “gatel” gue pengin nulisnya gak ilang, jadi, ya sudahlah…

Sebelumnya, apa yang gue tulis di sini hanyalah sebuah pola pikir gue sendiri. Kalau setuju, silakan. Kalau nggak, bodo amat. Kalau mau, jadian.

Jadi, seorang teman pernah bertanya di Twitter, ‘Cinta itu apa?’


Gue nggak ingat persis pertanyaannya gimana, tapi intinya dia bingung cinta itu yang gimana. Apakah cinta itu hanya sebatas kata yang paling sering dijadikan judul lagu maupun film, apakah cinta itu sebuah makanan khas suatu daerah di timur Afrika, atau cinta adalah perasaan yang terlalu kompleks buat dijelaskan. Lantas, gue pun menyambar tweet tersebut dengan jawaban sekenanya, seperti yang gue tahu sejauh ini, ‘Cinta itu gabungan dari sayang, komitmen, dan napsu.’

Teman gue bertanya lagi dengan keraguan yang gak bisa dia sembunyikan, ‘Oh, jadi menurut lo cinta itu berasal dari sayang dan berujung napsu? Cinta itu harus ngikutin nafsu gitu?’

Dari sikap skeptisnya, gue bisa menebak kalau waktu-waktu berharga teman gue ini selalu dihabiskannya di bilik warnet dengan rentetan video bokep di depan mata. Dia beranggapan nafsu itu selalu soal yang jelek-jelek.


Kita pun berdebat panjang di Twitter. Gue membalas mention-nya, yang kemudian dibalasnya lagi. Kadang, perdebatan kami juga diselingi dengan iklan ‘Hai @fajrimln, kamu sedang jadi pembicaraan hangat di detik.com. Cek di blabla…’ yang langsung gue report as spam.

Namun setahu gue, cinta memang begitu. Cinta memang nafsu. Setelah banyak waktu sering gue habiskan dengan membaca ini membaca itu, gue jadi sering berpikir ini itu. Efek dari banyak membaca adalah kita gak menutup diri untuk hal baru. Kita jadi terbuka dengan macam-macam hal yang biasanya gak familier sama kita, atau bertentangan dengan pola pikir kita. Kita jadi open minded.

Nah, soal cinta… kalau memang cinta, berarti kita sayang. Dan yang namanya sayang, itu akan menuntun kepada nafsu. By the way, nafsu yang gue bicarakan ini nggak melulu soal ‘itu’. Sebenarnya nafsu itu punya arti lebih luas daripada sekadar hasrat seksual. Menurut KBBI dan tesaurus saja, nafsu punya banyak arti maupun sinonim: dorongan hati, ambisi, antusiasme, gairah, gelora, hasrat, selera, kemauan kuat, semangat, sampai vitalitas.


Kalau nggak percaya, di-cek aja.

Jadi, gimana bisa cinta kalau nggak nafsu? 

Simpelnya, gimana kita bisa menyayangi seseorang kalau nggak punya dorongan kuat untuk hidup bersama? Cielah… Gimana bisa tertarik pada sesuatu (baik orang, maupun barang) kalau nggak punya antusiasme, nggak punya hasrat, nggak punya gairah? Gimana bisa jatuh cinta kalau nggak punya selera? Bagi gue, nggak punya selera sama dengan nggak punya standar.

Oke, mungkin ada yang bilang, ‘Tapi gue, kan, jatuh cintanya gak langsung. Gue jatuh cintanya pelan-pelan…’

Yah, menurut gue, sama aja. Jatuh cinta pelan-pelan juga berarti elo harus punya standar. Bisa disebut dengan: standar kenyamanan. Misalnya, pas elo kenal seseorang dengan begitu lama, elo kemudian jatuh cinta, itu berarti elo udah menemukan kenyamanan sama dia. Elo udah punya standar, punya selera. Bagi gue, jatuh cinta pelan-pelan itu cuma soal “mulai”-nya yang lama.

Sampai sekarang, mungkin masih banyak orang yang menganggap “nafsu” itu selalu soal yang jelek-jelek. Bagi gue, nafsu nggak melulu soal hal-hal kotor. Defenisinya bisa sangat luas.

Jadi, bisa kebayang gak, mencintai tanpa nafsu? Pasti hambar banget ya… Gue, sih, gak gak mau.

Advertisements

37 thoughts on “Cinta Itu Nafsu Nggak, Sih?

  1. Halo, Kak Fajri. Mungkin benar apa yang kakak katakan soal cinta itu napsu. Karena kalau dirujuk ke pengertian nafsu itu sendiri saya pun mengartikannya sebagai ambisi dan keinginan. Bukan cuma menyangkut hal “itu”, tapi ya memang lebih ke arah keinginan untuk memiliki. Memang sangat tidak mungkin ketika kita mencintai seseorang kemudian kita tidak punya keinginan untuk memiliki. Hahaha. Bohong besar kalo bilang “cinta tak harus memiliki”.

    Dan bicara nafsu, ya kata itu masih identik dengan hal yang negatif. Jadi banyak yang salah mengartikan. Btw, salam kenal πŸ™‚

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s