Sebuah Pelajaran dari Lizzie Velasquez

Meskipun masih umur segini, tapi gue udah cukup sering mendengar kalimat mengeluh keluar dari mulut orang-orang. Bisa dari keluarga, dari temen-temen, sampai dari yang paling dekat: gue sendiri.

‘Gue miskin. Gue gak ganteng. Followers gue sedikit. Gue pengin mati aj…, tunggu, gue pengin jadi Haji Lulung ajah.’

Keluhan lain seperti gak laku-laku, atau duit jajan cuma buat bisa beli permen se-kontainer, juga sering gue dengar. Dari sini gue mulai bisa menyimpulkan, makin modern zaman, makin naik kebutuhan, makin besarlah kemungkinan orang-orang akan mengeluh. Coba aja bayangkan, sepuluh tahun yang lalu mungkin masih sedikit anak yang nodong-nodong orang tuanya buat dibeliin handphone. Sepuluh tahun yang lalu dikasih jajan pas-pasan aja mungkin gak bakal ngomel-ngomel kayak anak-anak zaman sekarang. Seribu tahun yang lalu gak laku-laku dalam percintaan pun mungkin gak akan bikin pengin bunuh diri kayak remaja-remaja sekarang. 

Masalahnya, bukan pada zaman yang berubah. Naiknya kebutuhan itu wajar, dan tuntutan untuk memenuhinya yang meningkat juga wajar. Yang gak wajar adalah, rasa bersyukur yang menipis. Keasyikan mengeluh sampai lupa berterima kasih. 

Nah, di postingan ini, gue pengin ngajak berandai-andai, apa yang bakal lo lakuin kalau terlahir seperti Lizzie Velasquez?


FYI, Lizzie Velaszuez ini terlahir dengan sindrom Marfan dan lipodystrophy – sindrom langka yang membuat elo gak bisa menaikkan berat badan, berapa porsi nasi padang pun elo makan, berapa kotak L-Men pun lo abisin setiap jam. 

Selain itu, dia juga mengalami cacat lainnya, seperti penglihatannya yang buta sebelah (sebelahnya lagi juga terganggu), dan ditemani operasi demi operasi selama bertumbuh. Kebayang gak, tuh, kondisinya gimana?

Nah, kalau elo? Gimana rasanya kalau seandainya terlahir seperti dia? Pengin mati aja? Mungkin. Dan gue juga, mungkin sama. Gue gak akan bisa nonton teater JKT48 lagi dengan kondisi miris gitu. Oke, maaf.

Tapi bagi Lizzie, nggak. Nggak sama sekali. Terlahir dengan kondisi jauh dari sempurna gak membuat semangat hidupnya jadi kacrut sekacrut-kacrutnya celana dalam. Meskipun gak bisa sempurna, paling nggak dia bisa nge-black menthol atau djisamsoe. Loh?

Di usia 17 tahunnya yang pertama (FYI, Lizzie ulang tahun ke-17 sebanyak 20 kali), Lizzie iseng menonton sebuah video di Youtube tentang ‘The World Ugliest Woman’. Karena ada kata ‘ugliest’ di sana, Lizzie langsung keinget dirinya. Mulanya, Lizzie berharap video itu bukan soal dia, tapi soal mantan pacar siapa pun di dunia. Dia pun penasaran, lalu mencoba memutarnya. Sampai akhirnya video 8 detik itu berputar, dia sadar lalu bergumam, ‘Wah, kok mirip gue ya?’

Bebarengan dengan itu, caption videonya ngomong, ‘Ini emang elo! Kita terlahir sama! kita satu raga satu jiwa! Kita Slankers!’ 

Lizzie kaget dong. ‘Wah, iya ya…’

Gak berakhir di situ saja karena video yang ditonton jutaan kali ini pun berisikan komentar-komentar pedas nan kampret, yang kalau gue nemu di twitter, akan gue copas dan gue broadcast ke contact mantan-mantan biar mereka sakit mata bacanya. Tapi sayang, gue gak punya mantan. Tidak satu pun.

Oke, maaf.

Intinya, komentar-komentar di video itu gak jauh-jauh dari caci maki, seperti, ‘Wah, kalau gue jadi orang tuanya, bakal gue jual, tuh, anak.’ Mending kalau laku…

Atau, ‘Bakar aja. Sakit wa liatnya.’ Atau yang lebih parah, ‘Sist, cek IG kita ya, jual joggerpants yang lagi trendy abis. Ada pemutih dan perontok bulu hidung juga. Buat nanya-nanya, invite aja blablabla…’

Sakit wa bacanya.

Dan banyak lagi komentar yang intinya pengin Lizzie Velasquez ini mati. Gue gak kebayang, seorang remaja berusia 17 tahun, yang biasanya sedang menghabiskan masa-masa alaynya, malah terpuruk dalam jurang depresi yang dalam karena pem-bully-an oleh orang-orang yang sok sempurna. Tapi percayalah kawan, Tuhan itu maha adil. Adil seadil-adilnya. Meskipun kondisi Lizzie begitu sejak lahir, tapi dia dibesarkan penuh cinta oleh kedua orang tuanya. Mereka membesarkan Lizzie supaya benar-benar “siap” untuk hidup. Dan benar, apa yang elo tanam, itu yang bakal elo tuai. Lizzie tumbuh menjadi gadis superbaik. Dia pernah ngomong kira-kira gini, ‘Saya tidak tahu apa yang dialami oleh mereka (si tukang bully). Saya hanya maklum, karena meskipun kondisi saya sangat sulit, mungkin mereka mengalami yang lebih buruk.’

Berbekal hati yang lembut dan semangat hidup yang tinggi, Lizzie pun bergerak membuat sebuah channel Youtube pribadinya. Iya, gue sendiri juga baru tahu kalau dia seorang Youtuber. Kebanyakan videonya si Lizzie ini berisi motivasi atau kehidupan pribadinya sehari-hari. Channel-nya sendiri sekarang udah di-subscribe sekitar 300 ribuan orang.

Belakangan, Lizzie juga berkolaborasi dengan seorang ibu yangmana putrinya bunuh diri karena di-bully di dunia maya. Lizzie dan si ibu ini berkampanye mendorong parlemen AS agar membuat UU anti pem-bully-an. Dari seorang bayi yang terlahir cacat, remaja korban cemoohan, sampai akhirnya menjadi wanita yang mengubah dunia. Lizzie adalah seorang wanita yang tidak menganggap dirinya sebagai korban, tapi sebagai pembawa perubahan.

Terakhir, sebagai wota, gue hanya bisa meneriakkan, ‘Chouzetsu kawaii…, Lizzie!’ *nangis*

Di akhir postingan, gue cuma mau bilang kalau tulisan di atas bukan buat menggurui atau sok bijak. Tapi gue tulis sebagai bahan instrospeksi buat gue sendiri, dan (syukur-syukur) yang baca. Gue jadi sadar, gue udah kebanyakan ngeluh, keseringan ngomel-ngomel gak jelas, sampai lupa caranya bersyukur. Gue terlalu menuntut lebih, sampai lupa indahnya merasa cukup. Gue terlalu manja, sampai takut untuk berjuang, takut bekerja lebih keras lagi demi impian gue.

Sekarang, gimana dengan elo? Sudah bersyukur-kah? 🙂


Source: bbc.com
Advertisements

7 thoughts on “Sebuah Pelajaran dari Lizzie Velasquez

  1. Wow…cool perpaduan fiction ama fact y kawin bgt, inspiring tapi ga menggurui
    O ya kalimat yg ini “Dan benar, apa yang elo tanam, itu yang bakal elu semai” itu bkanya harusnya gini ya ” apa yang kau tanam itu yang akan kau TUAI”..bkan brmaksud sok bner ya…nice👍

    Like

  2. Sial. Ditengah postingan lo, gue berhasil ngakak.
    Btw, bullying emang bener-bener nggak boleh dilakukan lagi! Lizzie emang sosok yang bisa ngambil hikmah di saat tersulit sekalipun. Cemungudh Lizzie! 😀

    Like

  3. sebenrnya org2 yg suka ngeluh ini memang hrs bnyk2 liat ke bawah… ke org2 yg kurang beruntung, biar mrk tau nikmat TUHAH apa aja yg udh dikasih ke mereka -__- Kalo cuma melihat ke ATAS, mw punya uang trilyunan USD sekalipun ttp aja g bkl cukup… dan mw bersyukur jd ga bisa2.. Apa memang didikan ortunya dr kecil yg bikin mereka jd gitu ya mas..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s