Januari Mendung

Dari semua rindu yang dihembuskan hujan, kenapa tidak ada satu pun yang hinggap di bahu? Gue juga pengin ada yang nungguin. Gue pengin ada orang-orang terdekat yang berharap gue pulang. Tapi, entah kenapa, hal itu seolah ditelan oleh dinginnya hidup di perantauan. Gue merasa sendirian di sini, di tempat yang asing, di ribuan kilometer dari rumah yang seolah berjarak belasan juta tahun cahaya.
Gimana gue berada di antara ingar bingar Ibu Kota yang ramai, lalu lintas yang gak pernah sepi–siang dan malam, kedai-kedai yang seolah tak punya jam tutup, manusia-manusia tanpa istirahat, tapi semua terasa seperti kuburan saat ini. Seperti yang gue alami sekarang; di saat puluhan rekan kerja tak bisa menggantikan keakraban suasana di kelas dulu; masakan mahal di restoran tak lagi menggugah selera, seperti yang biasanya dilakukan oleh masakan Ibu; rentetan kepingan DVD yang gak bisa lagi menemani Sabtu malam. Pada titik ini, gue benar-benar merasa sendirian.
Susah ya, jadi anak kos? Selain kesepian-kesepian tadi, yang lebih susah adalah ketika sakit. Di rumah, masuk angin saja akan langsung ditodong perhatian oleh Nyokap. Di sini? Pada beberapa orang, hidup akan menjadi neraka. Namun akhirnya gue sadar kalau sebenarnya yang dibutuhkan hanyalah pengalihan. Sebuah distraksi yang bisa mengusir muram. Semacam pelarian.
Dan gue akan bahagia.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s