Sederhananya Bahagia

Gue membenamkan punggung di bantal yang dijadikan alas buat sandaran. Suasana di kosan gak berbeda jauh dengan ruang keluarga. Dalam sebuah ruang keluarga, biasanya terdapat sekaleng biskuit, televisi dan remote-nya yang diributkan adik-adik, dan tawa hangat semua anggota keluarga. Begitu pun di dalam sebuah rumah kontrakan atau perkosan (err.. rumah kos aja, deh). Mungkin bedanya, di kosan, fungsi televisi bisa digantikan dengan gitar, biskuit atau kue bisa digantikan dengan mie instan.

Tapi suasananya sama. Di ruang keluarga mau pun di kos, canda tawa biasa menemani gue menghabiskan malam.

Walaupun beda lingkungan, beda orang-orangnya, yang paling penting, keduanya menciptakan kehangatan, kan?

Semua yang gue rindukan di rumah, seperti ada di sini. Di kamar kos yang berantakan. Di kamar kos dengan kolor dan beha yang bertebaran di sana-sini.


Gue kembali dari lamunan, melanjutkan mengetik untuk laporan yang deadlinenya tinggal beberapa hari lagi. Karena keasikan mengetik, tanpa sadar jam udah menunjukkan pukul 6 sore. Sesuatu yang jarang gue alami belakangan ini, time warping. Sesuatu yang jarang gue alami karena sedikitnya hal yang membuat gue keasikan karena antusias.

Tapi sekarang, yang namanya mental tukang ketik, ya bakal seneng kalau dapet tugas ketikan. Entah itu menulis cerita, atau cuma menulis laporan PKL yang entah kapan akan terpakai dalam kehidupan gue nanti.

Yang terpenting gue punya kerjaan (atau ketikan) buat membunuh waktu. Because, writing is fun, right? Entah apa hubungannya dengan mengetik laporan yang cuma menyalin dari referensi-an…


Beberapa lama menulis, gue mencabut earphone di kuping kiri karena mendengar suara yang ramai di luar kamar. Suara yang lebih ribut dari biasanya. Ternyata, di ujung-ujung PKL ini, beberapa teman yang lain lebih senang menghabiskan waktu dengan main-main. Entah karena hanya ingin mengistirahatkan pikiran dari kejaran deadline yang makin liar, atau emang kurang kerjaan di kosan masing-masing.

Kalau gue, lebih memilih berdiam diri dulu. Pengeluaran sebulan ini udah terlalu gede.

Dalam sekejap kosan berubah menjadi rumah yang biasa dipakai party oleh abege di amerika. Bedanya, di sini gak ada bir, barbeque, dan cewek-cewek bikinian di dekat kolam renang.

Gue kembali ke laptop dan menutup kerjaan seharian ini, kemudian ikut berbaur dengan yang lainnya. Terkadang, yang kita butuhkan itu bukan bersenang-senang dengan hape, tablet, atau gadget apa pun. Terkadang, yang kita butuhkan hanyalah menciptakan waktu yang berkualitas dengan orang-orang hidup. Orang-orang di sekitar, baik yang udah dikenal mau pun yang baru sebatas “orang asing”. Kita butuh interaksi nyata, bukan sesuatu yang maya.

Seperti sekarang, itu adalah yang paling gue butuhkan saat jauh dari rumah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s